Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Senin, 08 Maret 2010

Pemerintah Harus Manfaatkan 3 Momentum Emas





Written by widodo
Senin, 08 Maret 2010 (sumber Tribun Batam,versi asli)
JAKARTA,TRIBUNNEWS.COM- Industri Indonesia berada di persimpangan antara kejayaan dan kemunduran. Demikian kesimpulan rapat kerja nasional (Rakernas) HIPMI XIV yang berakhir di Batam, Kepulauan Riau, akhir pekan lalu.

Dijelaskan Indonesia tengah berjaya sebab ekonomi nasional telah menunjukan pengaruhnya dan dihormati dunia. Serta Indonesia dinilai mampu menjalankan semangat globalisasi yakni pasar bebas dan demokratisasi sistem pemerintahan.

Namun, ancaman kemunduran industri juga tengah terjadi. “Indonesia hanya dimanfaatkan oleh globalisasi ditandai dengan kemandirian yang semakin tergerus,” ujar Ketua Umum HIPMI Erwin Aksa dalam rilisnya ke Persda usai Rakernas

Dalam kondisi demikian, kata Erwin, tidak banyak waktu bagi Indonesia untuk menentukan pilihan. “Padahal begitu banyak yang perlu segera dilakukan untuk mengejar ketertinggalan dalam globalisasi khususnya dalam hal daya saing perekonomian, efektivitas pemerintahan, dan pemerataan tingkat kesejahteraan masyarakat,” tambah dia.

Untuk menghindar dari kemunduran itu, HIPMI merekomendasikan, pemerintah dan industri nasional harus memanfaatkan tiga momentum emas Indonesia.

Pertama krisis ekonomi global yang baru lalu, kedua diberlakukannya pasar bebas Asean-Cina, ketiga demokratisasi dan desentralisasi di dalam negeri yang semakin meluas.
“Krisis ekonomi global yang baru lalu yang dimotori oleh perusahaan multinasional dari negara-negara majumembuka peluang bagi korporasi nasional merambah pasar nasional dan internasional,” kata Erwin.
HIPMI melihat, pemerintah dan industri nasional harus bisa menggantikan dominasi perusahaan multinasional barat, sebab Indonesia, China dan India tidak terlalu terkena krisis.
Erwin mengatakan, perusahaan multinasional barat membutuhkan masa pemulihan sekitar3-5 tahun ke depan.
“Dalam rentang waktu itu, perusahaan nasional dapat meningkatkan pangsa pasar dalam negeri, dilanjutkan dengan ekpansi ke pasar internasional,” tegas Erwin.
Dia memberi contoh,Citibank sedang sibuk membenahi dirinya di AS, PT Bank MandiriTbk, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk berkesempatan mengambilalih pangsa pasar Citibank di Indonesia dan Asia Tenggara.
Peluang emas kedua, pemerintah dan industri nasional harus mampu memanfaatkan perjanjian pasar bebas Cina dan Asean.

“Di sana terdapat peluang perusahaan nasional untuk mengekspor barang dan komoditas ke Cina dan Asia Tenggara semakin terbuka lebar,” tambah dia.
Terakhir, pemerintah harusmemanfaatkan kian matang dan meluasnya demokratisasi politik dan desentralisasi sistem pemerintahandi daerah.
Desentralisasi ini jangan dijadikan hambatan melainkan dijadikan peluang emas untuk mendorong efektivitas pemerintahan dan pemerataan pembangunan.

Asianisme
Sementara itu, Sekjen HIPMI M Ridwan Mustofa menegaskan, tiga peluang emas tersebut seyogyanya menjadi faktor pemercepat bagi terwujudnya "Asianisme" yang sudah diprediksikan banyak pihak sebelumnya.

“Asianisme menggantikan Westernisme adalah fenomena atau tepatnya zaman dimana perekonomian dunia digerakan oleh perekonomian di Asia, khususnya India, Cina dan Asia Tenggara,”kata Ridwan.
Yang perlu dicatat, dalam konteks Asianisme, Indonesiatidak boleh hanya dijadikan sebagai pasar, tapi juga sebagai produsen barang dan jasa dengan kualitas dan harga yang sangat kompetitif bagi pasar-pasar negara Barat.

“Jadi mentalitas kita harus diganti dari sekedar pedagang menjadi industriawan,” tambah Ridwan.
HIPMI menyayangkan, baru sedikit perusahaan Indonesia yang memiliki kemampuan untuk menembus pasar internasional.
Bahkan di pasar dalam negeri sendiri, produsen nasional kalah bersaing dengan barang dan jasa impor.Hal ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah dan industri nasional.
Sebelum merambah ke pasar internasional produsen nasional sebaiknya mendominasi pasar dalam negeri terlebih dahulu.
Apalagi mengingat ukuran pasar Indonesia yang begitu besar, setiap produsen nasional memiliki kesempatan untuk mencapai skala ekonomis yang cukup besar sehingga menurunkan ongkos produksi secara signifikan.
“Hal inilah yang dilakukan Cina secara agresif dalam dua dekade terakhir khususnya setelah menjadi anggota World Trade Organization,” tambah Ridwan.
Ridwan mengingatkan, bila tiga peluang emas itu gagal dimanfaatkan, maka industri nasional akan memasuki masa kemunduran (deindustrilisasi) .
“Perusahaan nasional yang sudah membangun pangsa pasar selama bertahun-tahun justru khawatir pasarnya tergerus dalam sekejab oleh impor dari Cina yang jauh lebih murah dengan kualitas yang sering kali lebih baik,” imbuh dia.

Lakukan Reindustrlisasi
Untuk menghindar dari deindustrilisasi, HIPMI merekomendasikan beberapa program ke depan.
Pertama, dalam jangka pendek (12 bulan ke depan), pemerintah harus melakukan reindustrialisasiya kn langsung memberlakukan kebijakan yang tepat untuk meningkatkan daya saing perusahaan- perusahaannasional milik negara maupun swasta di seluruh sektor unggulan.
Pemerintah segera memberlakukan kebijakan yang dapat menurunkanongkos produksi, meningkatkan nilai tambah dan peningkatkan efisiensi industri, peningkatan kontribusi UKM terhadap PDB, peningkatan pangsa pasar produk nasional, peningkatan Jumlah Wirausaha, peningkatan kerjasama Bank Nasional dengan Perusahaan Nasional, pembentukan bank UKM, peningkatan pertumbuhan nilai PDB
Kedua, jangka pendek-menengah (24 bulan), remodernisasi pembangunan nasional.Pembanguna n nasional dilakukan dengan cara- cara baru. Pemetaan, konsolidasi dan mobilisasi sumber daya utama untuk penguatan perekonomiannasiona l. (aco)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar