Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Senin, 03 Oktober 2011

INDUSTRI HENGKANG DARI BATAM KARENA KALAH TEKNOLOGI

  • Copyright:ANTARA
  • Date:Okt 01
Batam, 1/10 (ANTARA) - Beberapa perusahaan industri hengkang dari Batam karena produknya kalah bersaing dengan perusahaan sejenis yang berteknologi lebih maju.

"Perusahaan ke luar karena produknya tidak kompetitif lagi," kata Kepala Badan Pengusahaan Kawasan Perdagangan Bebas dan Pelabuhan Bebas (KPBPB) Batam Mustofa Widjaja di Batam, Sabtu.

Mustofa sekaligus membantah penyebab keluarnya beberapa perusahaan dari KPBPB Batam karena birokrasi yang menyulitkan.

Ia mengatakan kebanyakan perusahaan yang ke luar dari Batam bergerak pada bidang elektronik.

Panasonic Indonesia, kata dia mencontohkan, terpaksa menutup usaha di Batam karena produknya, baterai jenis micad sudah tidak dikonsumsi pasar.

"Sekarang banyak yang pakai litium, sehingga produk mereka baterai jenis micad tidak kompetitif lagi," kata Mustofa.

Panasonic, kata dia, menolak untuk mengalihkan produksi micadnya di Batam menjadi produksi litium.

"Pernah juga saya tanya, kenapa tidak beralih produksi litium, tapi mereka menolak karena teknologinya berbeda," kata Mustofa.

Mustofa menceritakan ada juga perusahaan yang memproduksi hard disc di Batam terpaksa tutup karena sudah banyak produk yang lebih canggih dan lebih populer di pasaran.

Selain karena tidak kompetitif, ia mengatakan beberapa perusahaan mempertimbangkan usahanya di Batam karena kondisi keamanan.

"Kondisi keamanan juga jadi pertimbangan, kalau ada buruh demo, itu menjadi perhatian," kata dia.

Kondisi keamanan Batam, kata dia, selalu menjadi sorotan media asing negara-negara asal perusahaan yang menanamkan modalnya di kota yang bersebrangan dengan Singapura.

Hal senada diungkap Ketua Tim Ekonomi Provinsi Kepulauan Riau Kris Wiluan yang mengatakan kericuhan pekerja yang sempat terjadi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, mengganggu iklim investasi Free Trade Zone (FTZ) Batam.

"Kericuhan itu sangat berdampak pada iklim investasi," kata Kris.

Bahkan, kata dia, ada perusahaan minyak dan gas bumi dari Australia sampai mengurungkan niatnya berinvestasi di Batam karena pemberitaan kericuhan pekerja.

"Sepertinya mereka lebih memilih pindah ke Johor. Karena Batam dinilai tidak kondusif," kata Kris yang juga Presiden Direktur PT Citra Tubindo Tbk.

Pemberitaan kericuhan pekerja, kata dia, dibesar-besarkan di media Singapura dan Malaysia. Padahal kericuhan di Kabil relatif kecil dan hanya terjadi di satu kawasan.

Kris mengatakan khawatir, jika isu kericuhan tidak segera berakhir, maka citra Batam sebagai KPBPB semakin buruk di mata internasional.

(T.Y011/B/A013/B/A013) 01-10-2011 17:33:58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar