Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Jumat, 08 Juni 2012

Jalan Tol dan Rel Kereta Segera Dibangun

BATAM (BP) – Upaya memajukan Batam sebagai kawasan industri dan mengoptimalkan pengembangan sektor jasa, BP Batam telah menyusun roadmap yang matang. Antara lain, meningkatkan sarana dan prasarana berupa pembanguan jalan tol, rel kereta, penyedia air baku, pemeliharaan pesawat, pengolahan limbah, dan pusat data dan pelatihan.

Pengembangan jalan tol dimasukkan dalam roadmap setelah BP Batam melihat tingginya pertumbuhan kendaraan pribadi di Batam, terutama sepeda motor. Ini menyebabkan potensi kecelakaan lalu lintas lebih besar karena sepeda motor berada dalam jalur yang sama dengan kendaraan berat industri. Jalan bebas hambatan ini nantinya akan mengurangi potensi itu karena kendaraan roda dua tak bisa masuk tol.
“Yang jadi prioritas pembangunan tol adalah jalan ke arah bandara, kawasan industri, dan pelabuhan,” kata Ketua BP Batam Mustofa Wijaja, saat Batam Pos berkujung ke sana, dalam rangkaian Manufacturing Hope Roadshow pamungkas. Rombongan Batam Pos yang dikomandoi Pemimpin Perusahaan Usep RS, diterima Direktur Pengawasan Pengendalian Asroni Harahap; Direktur Humas dan PTSP Dwi Djoko Wiwoho; Kepala Biro Perencanaan Program dan Litbang Horman Pudinaung; dan Kasudbit Humas dan Publikasi Badan Pengusahaan Ilham Eka Hartawan.
Mustofa melanjutkan, untuk rel kereta nantinya hanya dikhususkan untuk transportasi manusia. Prioritas utama jalur kereta ini adalah yang menghubungkan Batuampar dan Batuaji. Kemudian, dilanjutkan pada jalur Sekupang-Batam Centre.
“Konstruksi rel kereta akan dikerjakan pada tahun 2013 – 2015, diharapkan sudah dapat beroperasi pada 2016,” kata Mustofa.
Layanan lain yang dikembangkan BP Batam adalah jasa perawatan pesawat yang dikenal dengan sebutan Maintenance, repair, and operations (MRO). Ini akan dibangun di Bandara Hang Nadim sejalan dengan keputusan Lion Air membangun fasilitas MRO berupa satu hanggar untuk pesawat Boeing 747-400, empat hanggar untuk jenis Boeing 737, dan satu hanggar untuk pengecatan.
Mustofa mengaku, keputusan Lion Air membangun fasilitas itu di Batam adalah keberhasilan BP Batam mengalihkan keinginan maskapai yang sebenarnya berencana membangun MRO di Johor. Mustofa berpendapat, Indonesia akan sulit mengajak maskapai penerbangan itu membangun MRO di Indonesia sudah berada di Johor.
“Karena itu saya ajak mereka meninjau Batam dan menilai sendiri, ternyata mereka berminat membangun MRO-nya di Batam,” kata Mustofa.
Orang nomor satu di BP Batam menambahkan, kalau roadmap itu sudah disampaikan ke pemerintah pusat. “Sudah saya laporkan pada presiden pada kunjungannya April lalu,” ujar Mustofa.
Mustofa juga menjelaskan, roadmap itu dibagi dalam tiga tahap. Pertama, Roadmap 2011. Tahapannya, BP Batam melakukan identifikasi sektor industri yang potensial dan lokasi yang dibutuhkan serta merinci strategi ekonomi.
Kedua, tahun 2011 sampai 2012. Pada tahap ini BP Batam melanjutkan pembangungan infrastruktur, pengembangan sumberdaya manusia, dan intensifikasi dan pemanfaatan lahan.
Ketiga, transformasi ke industri yang bernilai tambah tinggi, mengembangkan sektor jasa, dan membangun konektifitas dengan pulau-pulau sekitar.
Pengembangan sektor jasa jadi perhatian Mustofa. Sektor ini menurutnya harus dikembangkan sejalan dengan prediksi BP Batam bahwa tak lama lagi industri di Batam akan turun.
“Tahun 2015 kawasan industri di Batam mungkin menurun, beberapa industri dialihkan ke pulau-pulau sekitar Batam. Saat itu Batam harus berkembang ke sektor jasa,” kata Mustofa.
Sehubungan dengan rencana itu, dalam roadmap tersebut, BP Batam melihat adanya tren industri yang dapat menumbuhkan daya saing baru. Industri itu adalah industri informasi dan telekomunikasi dalam bentuk pembangunan pusat data. Industri lainnya adalah jasa penunjang pelayanan informasi teknologi. Terakhir adalah industri ramah lingkungan.
“Selama ini, jasa-jasa seperti itu diperoleh dari Singapura,” tambah Mustofa.
BP Batam juga telah menentukan beberapa industri fokus yang akan dikembangkan sehubungan dengan membanguna batam sebagai kawasan jasa. Fokus yang ditentukan adalah pada industri ramah lingkungan, informasi dan komunikasi, pengilangan dan pentimpanan gas, logistik, dan pemindahan (transipment), elektronika, pariwisata, galangan kapal dan outsourcing.
Untuk mewujudkan rencana itu BP Batam meningkatkan kapasitas Pelabuhan Batuampar dari layanan semi kontainer menjadi layanan full kontainer. Pelabuhan ini akan menjadi prioritas awal kemudian BP Batam akan mengembangkan pelabuhan transhipment di Tanjungsauh.
“Pelabuhan Batuampar nanti akan difokuskan untuk layanan domestik yaitu untuk bahan baku dan hasil produksi. Sementara di Tanjungsauh untuk petikemas karena lokasinya yang relatif lengang dan lautnya dalam,” jelas Mustofa.
Khusus penyediaan air baku, BP Batam akan mengandalkan Waduk Tembesi. “Jika itu sudah berfungsi, dapat memenuhi kebutuhan air penduduk Batam sampai 1,5 juta jiwa,” ujar Mustofa.
Untuk pengolahan limbah industri, limbah B3 yang nantinya dapat diolah di Batam adalah limbah metal recovery, cooper slag, pengolahan oli bekas dan limbah plastik. Sedangkan untuk pengembangan pusat data dan pelatihan, layanan yang akan disediakan adalah e-Public yang terdiri dari home page, web GIS, basis data pekerja dan e-kiosk. Layanan lain adalah e-Administrator yang berupa portal, billing and finance, land GIS, dan seaport.
Usai melihat dan mendengar penjelasa Mustofa, Wakil Pemimpin Redaksi Batam Pos, Ismed Syafriadi, bertanya, apa jaminan roadmap 2011-2015 itu tidak sekedar angan-angan.
Mustofa mengatakan, kalau saat ini percepatan pembangunan beberapa obyek. “Saya sudah meyakinkan DPR soal pengembangan Pelabuhan Batuampar, pengembangan MRO telah disepakati dan kami yakin kalau Lion Air berkembang, Batam ikut berkembang. Untuk kereta api, tinggal dipercepat pengerjaannya,” terangnya.
Pertanyaan lain datang dari Muhammad Iqbal,  juga Wakil Pimpinan Redaksi Batam Pos. Iqbal melihat fenomena industri perkapalan yang pindah ke Karimun.
“Apakah karena Batam sudah penuh dan lahan di Rempang-Galang yang masih status quo?” tanya iqbal.
Mustofa menjawab, industri perkapalan masih berkembang di Batam. Namun ia tidak menolak jika industri galangan kapal dibanguna di daerah lain. “Bagus kalau galangan kapal pindah ke daerah yang punya cukup lahan, supaya Batam bisa fokus mengembangkan sektor jasa,” ujar Mustofa.
Pada pertemuan itu, Mustofa juga sedikit menyinggung soal pemberitaan kecelakaan kapal APC Aussie 1 yang menabrak Jembatan 6 Galang.
“Foto-fotonya banyak tampil di halaman depan harian nasional. Mudah-mudahan cepat diperbaiki,” katanya.
Soal status Rempang dan Galang, Mustofa mengatakan sedang dibahas Tim Padu Serasi Privinsi Kepri.(cr19)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar