Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Senin, 16 Januari 2012

Daya Tarik Batamindo Dianggap Mulai Turun

BATAM CENTRE --  Daya tarik Kawasan Industri Batamindo (KIB) yang berlokasi di Mukakuning dinilai sudah mulai melemah. Sejumlah perusahaan besar, satu per satu mulai meninggalkan atau melakukan relokasi ke kawasan-kawasan industri lain di Batam ataupun ke negara tetangga.

Sempat menjadi primadona bagi para pengusaha dan pekerja, saat ini KIB pun dianggap sudah kurang diminati. Kawasan seluas 320 hektar ini, dulu bisa dikatakan sebagai incaran perusahaan-perusahaan besar berkelas dunia. Seperti Philips, Sony Chemicals Indonesia, Sanyo, Panasonic, Astra, Casio dan perusahaan PMA lainnya.

Tak hanya relokasi, sebagian perusahaan juga ada yang menutup operasionalnya dengan alasan tidak ada lagi order produksi, kalah bersaing dengan perusahaan yang memproduksi produk sejenis, sahamnya dikuasai oleh perusahaan lain ataupun sebab lainnya.

PT Philips Industries Batam, misalnya. Perusahaan yang termasuk pertama kali beroperasi sejak KIB mulai dibuka di tahun 1990-an, kini sudah beralih ke kawasan Panbil Batam Industrial Estate. Belum diketahui apa alasan perusahaan kelas dunia ini hengkang dari kawasan yang telah belasan tahun ditempatinya tersebut.

"Sudah sekitar dua tahun lalu PT Philips pindah ke kawasan industri Panbil. Padahal PT Philips termasuk perusahaan pertama yang ada di kawasan Batamindo, enggak tahu apa penyebabnya," ujar Andra, salah seorang pengurus Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Mukakuning, kemarin.

Selain PT Philips Industries Batam, juga terdapat beberapa perusahaan lain yang hengkang dari Kawasan Batamindo ke kawasan Panbil Batam Industrial Estate. Di antaranya PT Beyonics Manufacturing, PT TEAC Electronic Indonesia dan PT Shimano Department pancing.

Selain itu, PT Sincom Panasonic dan MKPI Panasonic pun pindah dari KIB ke kawasan industri di Batam Centre. Sedangkan PT Maruwa memilih pindah ke kawasan Bintang Industri Tanjunguncang.

Sementara, beberapa perusahaan di Kawasan Industri Batamindo ada yang telah menutup operasional perusahaannya. Di antaranya PT Exas, PT BJ Industries, PT Kyocera, PT Panasonic Battery Batam, PT Toyocom, PT Casio Electronics Indonesia yang sebelumnya bernama PT Asahi, PT Kumagaya Precision Motor Batam dan beberapa perusahaan lainnya.

Disamping itu, juga terdapat beberapa perusahaan yang berganti nama ataupun perubahan kepemilikan saham. Seperti PT Sony Chemicals Indonesia yang berganti nama ke Venturindo Jaya Batam (VJB), PT Evok Rifa Indonesia yang berganti nama menjadi PT Kemet, Thomson dan NXP yang menjadi perusahaan joint venture menjadi PT Nutune dan lainnya. Sedangkan 3 perusahaan baru yang masuk kawasan industri Batamindo, di antaranya PT Rafala, PT TNC dan PT Intrikon.

Kata Andra, hengkang dan berhenti beroperasinya perusahaan yang ada di KIB ini juga diiringi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) para karyawannya. Ribuan karyawan menjadi pengangguran baru dan berebut lapangan kerja dengan para pencari kerja yang terus datang setiap waktu.

"Bagi yang memiliki gelar pendidikan tinggi dan usianya masih muda tentunya tak masalah. Masih ada harapan untuk dapat pekerjaan baru. Namun bagi yang hanya tamatan pendidikan sekolah menengah dengan usia yang sudah mendekati kurang produktif, tentunya akan menjadi persoalan tersendiri," kata dia.

Menurut Andra, kawasan hunian (dormitory) yang ada di dalam KIB pun semakin sepi. Beberapa blok seperti blok I, J, K, L dan M sudah tidak ada lagi bangunannya, tinggal rumput dan pepohonan saja.
Dormitory di blok A, B, C, D dan E, akan segera menyusul. Informasinya, seluruh penghuni akan segera dipindahkan ke dormitory tingkat, seperti di blok N, P, Q ataupun blok R.

"Ada sekitar 30 sampai 40 persen dormitory yang tidak terhuni. Bahkan yang di blok F sudah bisa disewa oleh orang di luar kawasan industri Batamindo," ungkap salah seorang pengurus dormitory yang enggan ditulis namanya.

Sementara itu, Manajer CSR Batamindo, Andi Mapisangka saat ditemui di sela-sela pemutaran film perdana Laskar Anak Pulau di Sumatera Convention Centre Batam Centre, Minggu (15/1) kemarin, terkesan enggan menanggapi pertanyaan soal melemahnya daya tarik KIB bagi para investor.

"Wah kalau terkait masalah itu harus langsung ke pimpinan, Pak Jhon Sulistyawan," ujarnya.

Disinggung soal jumlah riil perusahaan yang beroperasi di KIB dan jumlah karyawan, Andi pun hanya berucap singkat. Katanya, saat ini ada sekitar 60-an lebih perusahaan yang beroperasi di KIB. (wan)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar