Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Jumat, 22 Oktober 2010

Drainase Tak Berwawasan Lingkungan

Seminar soal Penanganan Banjir

NAGOYA- Penyebab banjir di Kota Batam ternyata begitu kompleks. Salah satunya adalah pembangunan drainase yang ternyata tidak berwawasan lingkungan. Di samping itu, faktor alam seperti intensitas hujan yang cukup tinggi ikut memberi andil terjadinya banjir.

Demikian kesimpulan yang bisa diambil dari pemaparan yang disampaikan Prof DR Indratmo Soekarno, Guru Besar dan Pusat Pengembangan Sumber Daya Air (PPSDA) Institut Teknologi Bandung (ITB), saat penyampaian materi pada seminar yang bertema 'Permasalahan dan Konsep Penanganan Banjir di Kota Batam' yang digelar oleh Gapensi Batam, IAI Batam, HPJI Kepri, Gepeknas Kepri di Hotel Nagoya Plasa, Kamis (21/10).

"Banyak drainase yang tersumbat karena tidak terawat atau buruknya drainase, sehingga aliran air tidak lancar, ini salah satu contoh sederhana," ujar Indratmo.

Ia menjelaskan, dunia usaha di bidang pengembang perumahan yang kian pesat di Batam berpotensi besar penyebab timbulnya banjir. Sebut saja, para pengembang hanya memikirkan tata drainase di dalam kompleknya sendiri yang sangat memungkinkan menyebabkan banjir lingkungan luar komplek. Hal ini terjadi karena kebanyakan pengembang menimbun lahan yang dikembangkan dan membuang air hujan keluar kompleknya tanpa tuntas masuk ke drainase alam secara memadai sesuai debit dengan kala ulang yang memadai.

Penyebab banjir yang sering terjadi di Indonesia, kata Indratmo, juga akibat bangunan silang. Sebut saja seperti jembatan, gorong-gorong (culvert), shipon, pipa air, pipa gas maupun saringan sampah mempunyai potensi besar menghambat atau membandungaliran air pada tata drainase menuju tampungan akhir atau ke drainase alam.

"Jadi semua itu perlu direncanakan, dilaksanakan, dioperasi dan dipelihara dengan baik," ucapnya.

Faktor urban yang tidak terkontrol, sambungnya, juga berpotensi besar penyebab banjir. Karena mereka menempati lahan terlarang seperti bantaran drainase bahkan membuang sampah ke drainase sehingga menurunkan kapasitas saluran. Tapi urban terjadi karena pembangunan kota meningkatkan aliran permukaan (surface run-off), sehingga meningkatkan debit air menuju tata drainase alam. Termasuk reboisasi atau penghijauan kawasan hulu dari daerah tangkapan air yang kurang memperhatikan kaidah-kaidah konservasi tanah dan air.

"Jadi harus ada upaya konservasi meliputi penghijauan, reboisasi, pembuatan kolam-kolam retarding basin dan kolam retensi," ujar Indratmo.

##Dewan Prihatin

Sementara itu, soal banjir ini juga dikeluhkan DPRD Kota Batam. Sekretaris Komisi III Muhammad Yunus Muda mengaku prihatin ketika melakukan inspeksi mendadak (sidak) di sejumlah titik jalan masuk ke dalam lokasi pemukiman warga, maupun jalan masuk menuju perusahaan shipyard yang ada di Tanjunguncang. Dari hasil sidaknya itu, Yunus Muda akhirnya mengetahui bahwa selama ini perhatian Pemko Batam sangat minim.

"Berdasarkan fakta di lapangan, Dewan mendesak Pemko Batam membangun jalan menuju kawasan shipyard maupun lokasi pemukiman warga yang selalu banjir ketika hujan turun itu. Ini haru s menjadi skala prioritas tahun 2011 nanti," kata Yunus Muda di gedung DPRD Kota Batam, kemarin.

Legislator Partai Golkar ini menambahkan, perusahaan shipyard yang ada di Batam memiliki andil sangat besar dalam mempekerjakan ribuan tenaga kerja. Untuk itu, masalah jalan masuk ke dalam kawasan industri maupun pemukiman warga, sebagai akses utama perlu mendapatkan perhatian secara serius dari Pemko Batam dan Pemrov Kepri. (sm/ts/li)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar