Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Jumat, 15 April 2011

Ikan Pun, Batam Harus Impor

Dipublikasikan: redaksi
batamcyberzone.com (sumber Batam Pos)
Published: 15 April, 2011 | 09:52

Menteri Tak Beri Izin

Delapan importir ikan segar dan beku asal Batam tak mendapatkan izin impor dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Alhasil, ikan segar terancam langka di pasaran.
”Kurang jelas apa alasan pusat tak mengeluarkan izin kepada importir ikan asal Batam,” kata Kepala Disperindag Batam, Ahmad Hijazi kepada Batam Pos, Rabu (13/4).

Padahal, kata Hijazi, selama ini delapan importir Batam menjalankan persyaratan sesuai Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan yang Masuk ke Dalam Wilayah Republik Indonesia. Aspek yang diperhatikan, yakni tempat pemasukan dan pengeluaran, sertifikat kesehatan ikan, izin impor, instalasi karantina dan sertifikat pengiriman hasil ikan asli dari negara asal.
Dia menilai, Batam sebagai salah satu kota kepulauan di Provinsi Kepri bukannya tidak mampu memproduksi ikan segar dari hasil laut, melainkan hasil laut Batam lebih banyak diekspor daripada konsumsi warga sendiri karena kualitasnya lebih baik, dan harganya jauh lebih mahal dibanding impor dari Malaysia.
”Dari sisi neraca perdagangan, sebaiknya pusat memperhatikan. Intinya, tidak ada alasan pusat melarang bahkan membatasi kuota,” ujar Hijazi.
Menurut Hijazi, Batam mengimpor sekitar 400 ton ikan segar dan itu habis dikonsumsi rumah tangga dan juga bisnis rumah makan dan katering. Pasokan ikan, seperti gembung, selar dan tongkol berasal dari Malaysia.
Pelarangan ini sendiri mengakibatkan harga ikan di pasaran melambung. ”Saya sudah cek ke pasar-pasar, pedagang mengeluhkan ikan segar sulit didapat, sementara pembeli mengeluh harganya tiba-tiba mahal,” kata Hijazi.
Picu Inflasi

Hijazi menuturkan, sesuai pertemuan dengan pihak Bank Indonesia, langkanya ikan segar dan juga ikan beku di berbagai pasar di Batam, akan memicu inflasi dengan titik tertinggi. Pasalnya, komoditas tersebut merupakan faktor utama yang memengaruhi inflasi, yakni kebutuhan pokok bidang lauk pauk.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kadin Kepri, Paulus Amat Tantoso mengaku mendapat pengaduan dari importir ikan terkait kekosongan stok ikan segar dan minusnya stok ikan beku di gudang para importir.
”Akibatnya harga jual di pasaran pasti mahal. Ini akan memicu inflasi pada Mei mendatang,” ujar Amat.
Dia mengatakan, pemerintah harus cepat mengantisipasi untuk menjaga stabilitas ekonomi.
Lapor ke Menteri

Dirjen PSDKP Kementerian Kelautan dan Perikanan Syahril Abdurahman mengatakan akan menyampaikan kondisi permasalahan langkanya ikan segar di Batam.
”Pasti, akan saya sampaikan ke Pak Menteri. Biar beliau yang memutuskan,” ujarnya.
Syahril yang berkunjung ke gudang impor penyimpanan ikan segar milik Ansun di Batam melihat langsung gudang tersebut telah kosong. Tidak ada lagi stok ikan segar yang masuk dari Malaysia akibat kebijakan pusat menghentikan surat impor ke Batam.
Pengimpor ikan segar, Ansun mengatakan gudangnya kini hanya terisi delapan ton ikan yang terdiri dari tongkol dan selar berukuran sedang. ”Ini kami datangkan langsung dari Natuna, tidak cukup buat kebutuhan Batam selama seminggu. Mohon pak Dirjen melihat kenyataan di Batam,” ujarnya. (chahaya)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar