Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Kamis, 20 Februari 2020

Batam Cocok Jadi Sentra Aviasi dan MRO, Ini Kata Flybest Flight Academy

Rabu, 19 Februari 2020 (Sumber: Tribunbatam.id)

Batam Cocok Jadi Sentra Aviasi dan MRO, Ini Kata Flybest Flight Academy
Ilustrasi industri aviasi di Batam. Batam Aero Technic, MRO milik Lion Air Group di Bandara Hang Nadim 

BATAM, TRIBUNBATAM.id - Flybest Flight Academy, Karin E mengakui lokasi Batam yang strategis, dinilai menjadi potensi pengembangan industri penerbangan. Batam dinilai layak menjadi sentra maintenance, repair, and overhaul (MRO) dan aviasi.

Bahkan wilayah Batam juga dinilai bisa memanfaatkan potensinya untuk mendukung produksi pesawat N-219 buatan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) dan PT. Dirgantara Indonesia.

Menurutnya saat ini Batam sudah menjadi sentra aviasi yang ke-3.
"Sejarahnya Batam dibangun dengan industri shipyard dan industri elektronik. Hadirnya industri aviasi akan sangat mendukung perekonomian Indonesia. Batam layak jadi sentra MRO terbesar," ujar Karin, baru-baru ini di Gedung BP Batam.

Ia menilai kedekatan Batam dengan Singapura menjadikannya istimewa. Ditunjang dengan status Free Trade Zone (FTZ), sehingga bisa memanfaatkan potensinya untuk mendukung produksi pesawat N-219.

"Peluang itu bisa dioptimalkan dalam tahun 2020 dan 2021 ini. Seiring dengan banyaknya pesanan pesawat dengan kapasitas 19 kursi penumpang ini," katanya.

Ia melanjutkan sembari memanfaatkan momentum jangka pendek itu, industri penerbangan di Batam bisa menyesuaikan fokus pengembangannya. Sehingga bisa berkembang dan didukung oleh ekosistem yang ada. Dimana, sejauh ini industri aviasi di bidang MRO sudah berkembang cukup baik dan terus mengalami peningkatan.


"Tapi harus bisa terus ditingkatkan sehingga teknologi yang ada bisa menyesuaikan dengan kebutuhan masa depan. Harus mengerti dengan MRO di masa depan," katanya.
Sayangnya di Batam hingga saat ini masih kekurangan SDM. Oleh karena itu kedepan masih sangat dibutuhkan pembanguan pendidikan di Batam, dibidang industri penerbangan.
"Industri penerbangan saling terkait dengan industri lain. Kemungkinan SDM belajar ke luar negeri itu biarkan saja, nanti ketika Indonesia siap mereka kita tarik lagi," ujarnya.

Pada umumnya untung air line di bawah 5 persen (low profit margine). Namun saat ini, banyak yang melakukan bisnis dibidang itu.

"Karena volume bisnisnya besar. MRO saja sudah mencapai 1 miliar dolar. Lima tahun ke depan bisa mencapai 2,5 miliar dolar," katanya.

Sementara itu, Tenaga Ahli Pengembangan Pesawat Terbang, PT DI yang juga Ketua Indonesia Aircraft and Component Manufacturer Association (INACOM) Aircraft, Andi Alisyahbana mengatakan, untuk kearah itu, harus mampu menyerap perakitan sekitar 50 pesawat. Juga dibutuhkan peningkatan infrastruktur dan SDM untuk memenuhinya.

"Batam bisa tidak menyerap 50 pesawat di sini? Kalau bisa akan kita berikan," katanya.



Sementara itu, Presiden Direktur Lion Air, Edward Sirait mengakui pembangunan maintenance, repair and overhaul (MRO) pesawat dari Lion Air Group di kawasan Bandara Internasional Hang Nadim, Batam, terus mengalami perkembangan.

Sebelumnya, telah dibangun beberapa hanggar di lahan seluas 30 hektare bersama grup Garuda Indonesia.

Dan pada 2020 ini luas area perawatan pesawat milik Batam Aero Teknik (BAT) yang merupakan anak perusahaan dari Lion Group ini akan ditambah lagi hingga menyentuh angka 50 hektare.

"Pembangunan ini memang terus jalan, sekarang lagi proses dan kita juga punya master plan sampai nanti bisa parkir dan perawatan sampai 52 pesawat di hanggar. Kita proses peningkatan lahan dari 30 menjadi 50 hektare," ujar Edward dalam diskusi panel di Aula Balairungsari BP Batam, Selasa (18/2/2020) lalu.

Diakuinya peningkatan perluasan lahan ini, sejalan dengan kemudahan yang diberikan Badan Pengusahaan (BP) Batam, berupa perpanjangan masa pengelolaan lahan hingga 50 tahun lamanya.

Kondisi tersebut akan memberikan ruang lebih kepada pengusaha untuk melakukan pengembangan dan inovasi.

"Penggunaan lahan hingga 50 tahun dan kita bisa bekerja lebih lama dan fleksible," ujarnya.
Ia menambahkan, perluasan yang dilakukan diharapkan bisa menambah kapasitas pesawat yang bisa terlayani di unit usaha Lion Air Group.

Ia menargetkan ada lebih dari 50 pesawat yang bisa parkir secara bersamaan di hanggar yang akan dibangun nantinya.

Di tempat yang sama, Direktur Badan Usaha Bandar Udara (BUBU) Hang Nadim Batam, Suwarso menjelaskan, proses perluasan area usaha BAT ini tengah diproses oleh BP Batam.

"Pengembangan Bandara sendiri masih proses lelang. Akhir Maret baru keluar hasilnya," ujar Suwarso.

(tribunbatam.id / Roma Uly Sianturi)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar