Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Selasa, 27 April 2010

Tarif Indeksasi ATB





Ditulis oleh Ir Benny Andrianto, MM ,
Senin, 19 April 2010 08:30 (sumber Batam Pos,versi asli)

BennyGEGAP gempita, gemuruh, hiruk pikuk, riuh rendah beberapa hari terakhir ini. Ini semua berkaitan dengan PT. Adhya Tirta Batam (ATB) yang mengumumkan hajatannya untuk melakukan penyesuaian tarif. Semua pihak tiba–tiba kompak untuk saling memberi komentar, keluhan atau sebagian bahkan menghujat. Mereka kadang lupa berbicara atas nama siapa, untuk siapa, lalu apakah isinya relevan dengan isu utamanya atau sekedar klise?

Sungguh kasihan ATB dan BP Batam yang tiba – tiba harus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas semuanya. Beginilah repotnya kalau sudah jadi selebritis, semua aktivitas yang dilakukan oleh ATB semua pihak merasa harus tahu, harus dimintai ijin, merasa paling berhak untuk ngurusin ATB. Hal ini wajar rasanya, karena Air memang merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak, sehingga memang semua orang perlu tahu tentang rencana ATB untuk menyesuaikan tarif melalui proses Indeksasi.

Dimanapun kebijakan penyesuaian tarif selalu identik dengan kebijakan tidak populer, sehingga memang perlu jelas, dan kehati–hatian untuk membuat semua pihak dapat menerima kebijakan ini.

ATB mengucapkan terima kasih atas semua perhatian, komentar, masukan, keluhan ataupun kritik berkaitan dengan penyesuaian tarif ini. Mohon maaf bila kegiatan ATB telah dianggap lancang, datang terlalu cepat atau tidak melibatkan pihak terkait.

Untuk sementara marilah kita buka hati, singkirkan semua pikiran negatif,dan ijinkan kami untuk membuat hal ini menjadi lebih jelas dan dapat diterima oleh semua pihak.

Mengapa Tarif Air Perlu Naik?

Pada dasarnya dalam dunia ini semua barang kebutuhan utama cenderung akan naik harganya. Hal mana kenaikan harga bahan utama disebabkan oleh adanya inflasi dan atau adanya ketidak seimbangan supply dan demand. Dalam hal air sebagai kebutuhan hidup utama jelas semakin lama akan menjadi semakin mahal. Jumlah volume air yang makin menyusut akibat adanya pemanasan global dan tingginya pencemaran air telah mengakibatkan harga air menjadi semakin mahal.

Batam adalah merupakan sebuah pulau yang unik dimana ketersediaan air baku hanya bergantung pada curah hujan yang ditampung pada 6 (enam) dam yang ada. Malangnya ketersediaan air tanah/ air sumur di Batam jauh dari memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada air hujan menjadi semakin besar.

Harga air untuk domestik semakin lama juga akan menjadi semakin mahal, karena kelompok pelanggan yang memberikan subsidi tidak tumbuh secepat kelompok pelanggan domestik.

Satu hal lagi yang tidak terelakkan adalah adanya faktor CPI (Indeks kebutuhan utama- inflasi), dimana tingkat inflasi di Negara berkembang seperti Indonesia akan cenderung tinggi dan fluktuatif. Kita beruntung bahwa selama 3 tahun terakhir tingkat CPI cenderung stabil dan menurun, tetapi masih tetap terdapat nilai inflasi.

Perusahaan Air Paling Efisien

Batam sebagai daerah tujuan investasi, harus merasa beruntung dengan adanya ATB. ATB saat ini adalah merupakan salah satu perusahaan air yang efisien, kalau tidak ingin dibilang malah yang paling efisien.

Sekedar informasi ATB saat ini ramai dikunjungi oleh berbagai PDAM, Pemda, dan DPRD dari kota lain, baik untuk melakukan studi banding atau bahkan training. Banyak daerah sangat menginginkan pengelolaan air dapat dikelola sebaik dan seefisien ATB. Itulah sebabnya dalam MAPAM XI yang baru lalu ATB mendapat anugerah PERPAMSI Award untuk tingkat Metro, sungguh membanggakan bagi kita semua warga Batam.

Beberapa hal yang digunakan sebagai tolok ukur sebuah efisiensi, yaitu tingkat kebocoran (NRW), jumlah karyawan/1000 pelanggan, dan cakupan pelayanan. Kebocoran ATB per bulan Pebruari 2010 tercatat 26,5 persen. Dibandingkan dengan rata – rata kebocoran/NRW PDAM di Indonesia adalah 38 persen. Sementara ratio karyawan per 1000 pelanggan ATB sebesar 2,4. Sedangan standar untuk parameter ini adalah 4 ( makin kecil makin efisien). Cakupan pelayanan ATB sebesar 95 persen, sedangkan rata – rata cakupan pelayanan PDAM di Indonesia sebesar 60 persen. Dengan melihat semua parameter diatas, jelas bahwa ATB memang sudah sangat efisien.

ATB secara terus menerus melakukan evaluasi dan perencanaan yang matang dalam setiap program pengembangan jaringan dan kapasitas suplai. Hal ini dimaksudkan agar setiap biaya rupiah yang dibayarkan oleh pelanggan untuk setiap tetes air benar-benar bisa memberikan nilai tukar yang terbaik bagi pelanggan.

Survei kepuasan pelanggan selalu dilakukan setiap 2 tahun sekali oleh lembaga survey independen dengan standar International. Inilah yang menjamin bahwa semua program investasi dan kualitas operasional dapat dilakukan secara efektif dan memberikan nilai maksimal bagi pelanggan.

Saat ini kondisi ekonomi kita sudah kembali sehat, dan bahkan sebenarnya banyak pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia tidak mengalami krisis (ingat kasus Century).

Kondisi pasar modal memang sempat mengalami kehancuran ditahun 2008, dimana IHSG sempat menyentuh angka 1100 jatuh dari angka 2830 hanya dalam waktu beberapa bulan. Namun saat ini kondisi pasar modal telah kembali menyentuh angka 2845 atau artinya bahkan lebih tinggi dari rekor yang pernah dicapai sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan adalah Indonesia merupakan Negara dengan tingkat pemulihan pasar modal tercepat di dunia. Dengan demikian rasanya tidak tepat bila dikatakan bila saat ini kita masih mengalami kesulitan ekonomi. Batam adalah satu – satunya daerah yang tetap tumbuh bahkan saat Indonesia mengalami krisis tahun 1997/1998.

Dan Batam adalah merupakan salah satu daerah dengan PDRB tertingggi. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan ekonomi di Batam berjalan dan tumbuh dengan baik. Tak ada lagi yang perlu diragukan dengan kemampuan/ kondisi ekonomi Batam. ***

Wakil Presiden Direktur ATB

Jalur Lambat Belum Maksimal





Ditulis oleh Redaksi ,
Selasa, 27 April 2010 08:03 (sumber Batam Pos,versi asli)

BATAM CENTRE (BP) – Upaya melonggarkan jalan Jenderal Soedirman, Batam Centre dengan membuat jalur tambahan di sisi kiri dan kanan jalan utama Batam itu, belum maksimal. Meski dibangun lebih setahun lalu, jalur tersebut belum juga dipasangi rambu.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Muramis mengatakan, pihaknya belum bisa memaksimalkan jalur itu karena belum ada serah terima dari Otorita Batam. ”Kalau sudah serah terima, pasti kami pasang rambu-rambu dan perlengkapan lalu lintas lainnya di jalur itu,” katanya, kemarin.

Menurut Muramis, pemasangan rambu di ROW 200 tersebut sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Batam 2010. Hanya saja, Dishub belum berani memasangnya karena belum ada kepastian, terutama dasar hukum pengaturan jalur itu.

Pembangunan jalur tambahan di sisi kiri dan kanan jalan Jenderal Soedirman sedianya untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di jalan protokol tersebut. Selain kendaraan pribadi, baik roda dua dan empat, jalan itu juga dilintasi angkutan umum dan kendaraan berat pengangkut kebutuhan industri di Batam yang jumlahnya terus meningkat.

”Supaya tak terlalu padat, nanti akan diatur. Misalnya motor dan angkutan umum kita arahkan untuk menggunakan jalur lambat. Sedangkan mobil pribadi dan kendaraan pengangkut kebutuhan industri menggunakan jalan utama,” ungkapnya. (ros)

Revisi Belum Diketok, Dana Sudah Cair





Ditulis oleh M Taher ,
Selasa, 27 April 2010 07:59 (sumber Batam Pos,versi asli)
Sidang Kasus Damkar OB

Pengadilan
Negeri (PN) Batam kembali menggelar sidang korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) Otorita Batam (OB), dengan terdakwa Nur Setiadjid, Senin (26/4). Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Ratnawati yang merupakan Kabag Perbendaharaan Biro Keuangan OB.
Fakta yang terjadi di persidangan cukup mengagetkan pengunjung sidang. Pasalnya, saksi Ratnawati mengatakan, pencairan dana anggaran pengadaan mobil damkar OB tersebut, ternyata dilakukan sebelum direvisi anggaran tahun 2005 diketok (disahkan).

PEMPROV KEPRI MINTA KEPASTIAN PENGOPERASIAN PT DRYDOCKS

Tanjungpinang, 26/4 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meminta kepastian kepada manajemen PT Drydocks Graha World kapan perusahaan itu akan mulai beroperasi usai terjadinya amuk pekerja Kamis (22/4) pagi.

"Kami meminta kepastian kepada PT Drydocks Graha World kapan akan beroperasi kembali agar buruh ada kepastian kapan mulai bekerja," kata Wakil Gubernur Kepri, HM Sani di Tanjungpinang, Senin.

Sani mengatakan, kepastian pengoperasian perusahaan itu pascakerusuhan sangat diperlukan agar buruh mendapat kepastian dan tidak kebingungan.

"Kami juga akan berbicara dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam untuk menjelaskan bahwa Batam sangat kondusif dan aman untuk berinvestasi," ujar Sani.

Menurut dia, Pemprov Kepri beserta seluruh unsur Muspida memberikan jaminan keamanan berinvestasi di Kepri maupun Batam khususnya.

"Bila perlu kami juga akan ke Singapura memberikan penjelasan kepada para pengusaha yang berinvestasi di Batam bahwa Batam aman dan sangat kondusif," ujarnya.

Selain itu menurut dia, Pemprov Kepri juga akan berbicara dengan pihak serikat pekerja buruh agar sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban berinvestasi di Batam.

Sebelumnya PT Drydock berencana akan mulai beroperasi pada Senin (26/4) namun ditunda hingga waktu yang belum diketahui.

"Betul, operasional ditunda karena perbaikan belum selesai," kata Kapoltabes Barelang Kombes Pol Leonidas Braksan usai bertemu manajemen PT Drydocks di Batam.

Kerusakan bangunan dan perlengkapan kerja di galangan kapal PT Drydocks World Graha mencapai 75 persen.

"Secara kasat mata, hampir 75 persen rusak atau terbakar," kata Leonidas di Batam, Senin.

Selain bangunan dan kendaraan, perlengkapan kerja seperti skema pembuatan kapal juga terbakar, sehingga operasional pabrik kapal belum bisa dimulai.

"Memang rencananya Senin ini, tapi ditunda karena banyak yang masih rusak," kata dia.

Sementara itu, sekitar 6.000 pekerja Drydocks Graha World memadati sekitar galangan kapal pada sekitar pukul 07.00 WIB.

Para pekerja berharap sudah bisa mulai bekerja Senin pagi, seperti yang dikatakan manajemen beberapa waktu lalu.

Kapoltabes melakukan pendekatan kepada para pekerja , menjelaskan bahwa, operasional pabrik belum bisa dimulai karena banyak alat yang rusak atau terbakar. Pekerja dapat memahami dan langsung bubar.

Tidak ada gejolak saat pembubaran massa. Para pekerja membubarkan diri secara tertib.

Seorang pekerja yang ditemui sekitar pukul 11.00 WIB mengatakan kecewa tidak bisa mulai bekerja pada Senin.

"Saya khawatir tidak digaji, karena penggajian saya berdasarkan jam kerja. Kalau begini, dari mana saya cari nafkah untuk keluarga," katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Drydocks World Asia Tenggara Denis Welch mengharapkan kondisi kerja di Drydocks World Graha di Tanjunguncang, Batam, dapat segera pulih agar dapat menyelesaikan pesanan sesuai jadwal.

"Kami sedang mengerjakan beberapa proyek, di antaranya `jack-up` dan `rig semi-submersible` yang hanya bisa dioperasikan di wilayah tertentu di dunia," katanya.

Welch mengatakan sudah berkomunikasi dengan pimpinan dua pemesan dari luar negeri supaya tidak khawatir sebab pengerjaan akan terus berlanjut dan selesai sesuai dengan jadwal.

Pengoperasian kembali perusahaan, akan berguna menjaga nama baik perusahaan, Kota Batam dan juga Indonesia pada umumnya. Insiden pada Kamis pagi merupakan pengalaman traumatik bagi dirinya secara pribadi maupun sejawatnya.

Kompleks Drydocks World Graha (PT Graha Trisakti Industri) pada Kamis (22/4) pagi diamuk ribuan pekerja yang tersinggung ucapan seorang penyelia berkebangsaan India, sehingga anak perusahaan dari Drydocks World Dubai itu lumpuh untuk sementara.

Drydocks World Graha berdiri sejak 2007 setelah induknya di Dubai mengakuisisi saham Labroy Pte Ltd., Singapura. Industri peralatan pengeboran minyak dan gas lepas pantai itu terletak di atas lahan seluas 49,5 haktare, berdekatan dengan Drydocks World Pertama dan Drydocks World Nan Indah.

Welch menjelaskan, Drydocks Graha mempekerjakan hampir 20.000 orang, dan sebagai pimpinan untuk wilayah Asia Tenggara ia menjalankan misi meningkatkan jumlah karyawan tetap serta membangun pusat pelatihan. (T.KR-NP/B/A033/A033) 26-04-2010 20:36:52 NNNN

KAPOLTABES BARELANG: KERUSAKAN DRYDOCKS 75 PERSEN

Batam, 26/4 (ANTARA) - Kerusakan bangunan dan perlengkapan kerja di galangan kapal PT Drydocks World Graha , Batam mencapai 75 persen, kata Kapoltabes Barelang(Batam, Rempang, Galang) Kombes Leonidas.

"Secara kasat mata, hampir 75 persen rusak atau terbakar," kata Leonidas di Batam, Senin.

Selain bangunan dan kendaraan, maka perlengkapan kerja seperti skema pembuatan kapal juga terbakar, sehingga operasional pabrik kapal belum bisa dimulai.

"Memang rencananya Senin ini, tapi ditunda karena banyak yang masih rusak," kata dia.

Sementara itu, sekitar 6.000 pekerja Drydocks Graha World memadati sekitar galangan kapal pada sekitar pukul 07.00 WIB.

Para pekerja berharap sudah bisa mulai bekerja mulai Senin pagi, seperti yang dikatakan manajemen beberapa waktu lalu.

Kapoltabes melakukan pendekatan kepada para pekerja , menjelaskan bahwa, operasional pabrik belum bisa dimulai karena banyak alat yang rusak atau terbakar. Pekerja dapat memahami dan langsung bubar.

Tidak ada gejolak saat pembubaran massa. Para pekerja membubarkan diri secara tertib.

Seorang pekerja yang ditemui sekitar pukul 11.00 WIB mengatakan kecewa tidak bisa mulai bekerja pada Senin.

"Saya khawatir tidak digaji, karena penggajian saya berdasarkan jam kerja. Kalau begini, dari mana saya cari nafkah untuk keluarga," kata dia.

Y011/B/A011)

(T.Y011/B/A011/A011) 26-04-2010 12:46:23 NNNN

Senin, 26 April 2010

Investasi asing di Batam stabil

(sumber Bisnis Indonesia, 26 April 2010)

BATAM: Dewan Kawasan Pelabuhan dan Perdagangan Bebas Batam, Bintan dan Karimun (DK FTZ BBK) memastikan insiden kerusuhan yang terjadi di PT Drydock World Graha, tidak mengganggu kepercayaan investor asing terhadap daerah tersebut.

Ketua DK FTZ BBK Ismeth Abdullah mengatakan iklim investasi dan industri di kawasan FTZ BBK masih berjalan kondusif.

"Kerusuhan di Drydock secara umum tidak memengaruhi investasi di Provinsi Kepri, khususnya di kawasan FTZ BBK. Tidak ada pemodal asing yang berpikir pindah atau mengalihkan investasinya dari kawasan BBK," ujarnya dalam rilisnya, kemarin.

Menurut dia, pascainsiden kerusuhan, dewan kawasan sudah menghubungi para investor asing yang berada di Inggris, Korea Selatan, Jepang, Singapura dan dari negara lainnya.

DK, katanya, sudah menjelaskan kepada mereka pokok masalah yang terjadi dan upaya-upaya yang sudah dilakukan guna mengatasi insiden tersebut sehingga saat ini suasana sudah terkendali.

Kalangan investor, lanjutnya, menyatakan dapat memahami kondisi yang terjadi dan tetap berkomitmen melanjutkan investasi dan industrinya di kawasan FTZ BBK khususnya di Batam.

Kepada para pemodal asing DK menjelaskan hasil kesimpulan tim khusus bentukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang ditugaskan menyelidiki insiden kerusuhan yang terjadi di PT Drydock World Graha, Tanjung Uncang pada Kamis 22 April.

Tim terdiri dari unsur-unsur yang mewakili DK FTZ BBK, Disnaker Kepri, Badan Promosi dan Investasi Daerah Kepri, Badan Kesbanglinmas Kepri dan Disperindag Kepri.

"Secara prinsip kerusuhan itu murni masalah internal perusahaan karena hubungan antarpekerja yang kurang harmonis," kata Ismeth.

Dia menegaskan tim khusus menyimpulkan kerusuhan hanya bersifat kasuistik karena hampir seluruh perusahaan di kawasan itu sudah menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara pekerja lokal dan pekerja asing.

Menurut dia, kerusuhan yang terjadi adalah spontanitas karena pekerja lokal di perusahaan tersebut merasa diperlakukan tidak pada tempatnya atau ucapan yang menyakitkan hati, sama sekali bukan masalah pengupahan.

"Banyak perusahaan offshore yang investasi dan pekerjaannya lebih besar dari Drydock, tidak pernah mengalami kejadian seperti itu karena sudah menciptakan hubungan antarpekerja yang harmonis."

Persuasif


DK sendiri, katanya, terus melakukan upaya-upaya persuasif, meminta para pekerja untuk menahan diri dan pihak perusahaan juga sudah diminta mengambil langkah-langkah perbaikan.

Pihak manajemen Drydock juga sudah menyadari kekeliruannya dan menyatakan komitmennya ke DK untuk mengurangi jumlah pekerja asing di perusahaan tersebut.

Selain itu, sambung dia, perusahaan akan melakukan pembinaan pemahaman budaya dan adat istiadat lokal kepada para pekerja asing yang masih dipekerjakannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Manajemen Drydock juga sudah berencana akan kembali melanjutkan aktivitas industrinya mulai pekan depan dan menjamin tidak akan ada pemecatan terhadap para pekerja lokal di perusahaan itu. (K40)

Bisnis Indonesia

'Amuk pekerja bisa terjadi di Jakarta'

Apindo berupaya pererat komunikasi ekspatriat-pekerja

(sumber Bisnis Indonesia, 26 April 2010)

JAKARTA: Apindo DKI Jakarta mengingatkan peristiwa amuk pekerja seperti terjadi di PT Drydock World Graha di Batam, berpeluang terjadi di Jakarta.

Untuk itu pemerintah daerah dan pengusaha diminta harus meningkatkan koordinasi dan kerja samanya guna mencegah kejadian seperti itu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia DKI Jakarta Soeprayitno mengatakan pemerintah dan kalangan dunia usaha harus bersama-sama mengantisipasi jangan sampai terjadi peristiwa amuk pekerja seperti terjadi di Batam pada 22 April.

"Kami optimistis kejadian itu bisa dicegah karena adanya hubungan komunikasi yang sudah terjalin baik selama ini termasuk dengan kalangan ekspatriat," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Dia menjelaskan upaya antisipasi yang harus dilakukan pemerintah dan kalangan dunia usaha mencakup aspek jaminan keamanan pekerjaan, pendapatan dan sosial pekerja.

Dalam kasus peristiwa Batam, paparnya, lebih banyak dipicu faktor keamanan sosial pekerja yang merasa terusik oleh tindakan unsur manajemen yang kebetulan seorang ekspatriat, sehingga menyulut kemarahan dan solidaritas para pekerja.

"Keamanan sosial pekerja atau social security yang terganggu lebih dominan menjadi penyebab terjadinya peristiwa Batam."

Ketua Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Eddy Kuntadi mengatakan jaminan keamanan yang kondusif sangat diharapkan semua pihak agar kelangsungan perusahaan dapat terjaga dengan baik.

"Pada prinsipnya para pelaku bisnis, termasuk karyawan membutuhkan jaminan keamanan yang kondusif."

Pertemuan rutin


Soeprayitno mengatakan pihaknya akan berupaya maksimal agar komunikasi antarpengusaha, ekspatriat dan karyawan lainnya dapat terjaga dengan baik di antaranya melalui cara menggelar pertemuan rutin.

"Pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI, Pemda Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, sudah meminta kalangan ekspatriat untuk dapat membaur lebih akrab dengan para pekerja agar terjadi interaksi sosial yang baik."

Kalangan ekspatriat, tuturnya, menyambut baik masukan tersebut dengan kesediaan belajar bahasa dan budaya yang dominan di kalangan pekerja a.l. Jawa atau Sunda.

"Metode itu mampu meredam kesenjangan antarekspatriat dan pekerja lainnya terutama terkait pendapatan dan tunjangan lain," katanya.

Dia mengatakan situasi kerja yang relatif sudah baik di Jakarta dan daerah sekitar merupakan hasil dari pembinaan pemerintah dan kamar dagang dan industri masing-masing negara serta dialog yang intensif melalui forum resmi maupun individu ekspatriat.

"Satu hal lagi yang sangat penting adalah sistem internal di dalam perusahaan itu sendiri yang dapat memberikan kenyamanan kerja bagi kalangan karyawan," tandasnya.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta, pada 2008 sebanyak 5.173 pekerja asing mengajukan izin bekerja yang tersebar bekerja di lima wilayah se-DKI Jakarta dengan sebaran yakni Jakarta Selatan 2.286 orang, Jakarta Timur 323 orang, Jakarta Pusat 1.084 orang, Jakarta Barat 394 orang, Jakarta Utara 1.086 orang.

Dilihat dari tahun ke tahun, jumlah tenaga kerja asing di Jakarta menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan selama kurun waktu 2003-2008, yakni pada 2003 sebanyak 3.521 orang, tahun 2004 (4.255 orang), pada 2005 (4.267 orang), pada 2006 (5.155 orang), tahun 2007 (5.283 orang), pada 2008 (5.173 orang). (Yusran Yunus) (nuruddin. abdullah@bisnis.co.id)

Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia

Jak Art Hadirkan Musik Klasik





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 08:20 (sumber Batam pos,versi asli)

ASAH Indonesia Tour III

BATAM CENTRE (BP) – Jak Art bekerja sama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam menggelar pertunjukan musik klasik yang dikemas dalam acara ASAH Indonesia Tour III, Senin (26/4) pukul 19.30 WIB di Cendana Ballroom Hotel Novotel, Jodoh.

Pertunjukan musik klasik itu akan menghadirkan Ary Sutedja (Piano), Asep Hidayat (Cello) dan Mikhail David (Visual Artist).

Ketua panitia pelaksana acara Uba Ingan Sigalingging kepada Batam Pos, Jumat (23/4) mengatakan, Ary Sutedja sendiri merupakan pianist yang mendapat gelar Master of Music untuk pertunjukan piano dari Universitas Towson di Baltimore, Maryland tahun 1992. Saat itu ia berhasil memperoleh penghargaan Outstanding Achievement in Music dengan predikat summa cum laude.

Berbagai pertunjukan musik klasik keliling dunia seperti Australia, Eropa, Korea, Jepang, Thailand pernah ia lakoni bersama rekan-rekannya saat di grup Nuansa Klasika.

Sementara Asep Hidayat, seorang cellist yang dikenal selektif dalam memberikan resital dan konser baik untuk solo cello maupun musik kamar di tanah air maupun mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia dan Jepang. Dan terakhir Mikhail David merupakan konseptor acara ASAH. (cr3)

Drydocks Tak Akan Hengkang





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 07:49 (sumber Batam Pos,versi asli)

BKPM: Tak Pengaruhi Investasi

Pasca kerusuhan berbau SARA yang melibatkan pekerja lokal dan tenaga kerja asing (TKA) asal India, Kamis (22/4) lalu, Muspida Kota Batam dan manajemen PT Drydocks World Graha langsung menggelar pertemuan tertutup, kemarin (23/4) di lantai 5 Gedung Pemko Batam.

Pada pertemuan itu disepakati PT Drydocks World Graha akan beroperasi kembali Senin (26/4) mendatang. ”Hal itu karena melihat kondisi perbaikan kantor yang mengalami kerusakan, akibat kerusuhan tersebut,” kata Wawako Batam Ria Saptarika, saat konferensi pers, kemarin siang.

Pertemuan tertutup dihadiri Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan, Kajari Batam Tatang Sutarna SH MH, dan Asisten II Bidang Ekbang Kota Batam, Syamsul Bahrum, dan manajemen Drydocks.

Wawako menambahkan, sebelum beroperasi kembali, manajemen PT Drydocks akan bertemu dengan para pekerja lebih dulu. ”Mungkin pertemuan dengan pekerja untuk menyampaikan kesepakatan yang sudah kita capai,” paparnya.

Ria juga menegaskan, karyawan tetap akan mendapat hak-haknya sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara, Chief Executive Officer (CEO) PT Drydocks World Graha, Denis Welch kembali meminta maaf atas kerusuhan yang terjadi.

Dennis menegaskan, pihaknya berharap bisa beroperasi sesegera mungkin. Menurut Denis, pihaknya akan menyelesaikan seluruh masalah dengan para pekerja, agar pekerja bisa cepat kembali bekerja seperti biasa. ”Kami berniat untuk melakukan investasi di Batam, sehingga tentu saja suasana yang kondusif sangat diperlukan,” tambahnya.

Berapa kerugian galangan kapal milik pengusaha Dubai itu? Dennis belum bisa memastikan. ”Saya belum melihat situasi di sana,” tambahnya.

Dennis mengaku saat ini Drydocks World punya beberapa kontrak pembuatan kapal dengan beberapa perusahaan besar. Ia mengungkapkan pekerja Drydocks tengah mengerjakan dua unit kapal berteknologi tinggi.

”Kerusuhan yang terjadi di Drydocks membuat beberapa perusahaan menghubungi, menanyakan kondisi kapal mereka,” akunya.

Dennis mengaku bahwa ia ditelepon pemesan kapal dari London dan Amerika, guna menanyakan kapal pesanan mereka. ”Customer dari London dan Amerika sudah khawatir. Namun pemesan kapal dapat memahami situasi yang terjadi di Batam,” katanya.

BKPM: Tak Pengaruhi Investasi Asing

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan yakin, kerusuhan pekerja asing dan pekerja WNI di PT Drydocks World Graha di Tanjunguncang, Kamis (22/4) lalu tidak mempengaruhi investasi asing di Indonesia, khususnya di Kepri, karena persoalan ini hanya bersifat internal Drydocks.

”Saya sudah bertemu Duta Besar India, Singapura, dan Malaysia. Mereka mengatakan, kejadian tersebut adalah permasalah intern perusahaan saja, tidak mengaitkan permasalahan nama bangsa dan negara. Mereka mengerti dan memaklumi hal ini terjadi dan tidak akan mempengaruhi investasi mereka,” ujar Gita saat berkunjung ke PT Drydocks World Graha, kemarin sore.

Saat berkunjung, Gita dan rombongan didampingi Ketua Otorita Batam Mustofa Widjaja, Chief Executive Officier (CEO) PT Drydocks World Graha, Denis Welch, dan sejumlah pejabat lainnya dari Jakarta dan Batam.

Gita menyarankan agar, manajemen dan sub kontraktor membicarakan setiap situasi yang bisa menyebabkan pertikaian, sehingga hal ini tidak terjadi untuk yang kedua kalinya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Otorita Batam/BP Batam, Mustofa Widjaja. Menurutnya, kerusuhan yang terjadi di Tanjunguncang, tidak sampai mempengaruhi minat investor berinvestasi di Batam. ”Kita harapkan demikian. Meski memang kita mendapat banyak telepon terkait kerusuhan yang terjadi di Drydocks,” kata Mustofa.

Menurut Mustofa, telepon yang masuk tidak hanya sebatas dari keluarga pekerja asing yang bekerja di Batam, tapi pemesan kapal yang dikerjakan di Tanjunguncang saat ini juga banyak yang bertanya kondisinya.

”Kita katakan, kalau semuanya baik-baik saja,” ujar Mustofa.

Mustofa juga berharap agar seluruh lapisan masyarakat bisa menjaga suasana Batam tetap kondusif. ”Ini agar investor tidak ragu berinvestasi di Batam. Menjaga suasana kondusif tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya. (hda/cr2/nur)

Warga India Minta Maaf





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 07:50 (sumber Batam Pos,versi asli)

Devarajan PrakashKetua Persatuan Warga India di Batam, Mr Devarajan Prakash, menyampaikan permintaan maaf atas perkataan berbau SARA yang diucapkan Prabaharan Vijay Ganesh, warga India yang memicu kerusuhan di PT Drydocks World Graha, Tanjunguncang, Kamis (22/4).

”Saya minta maaf atas perkataan warga kita tersebut,” katanya sambil menangis—di hadapan muspida di ruang pertemuan Wali Kota Batam lantai 5.
Prakash mengaku seluruh warga India sudah berkumpul dan selanjutnya meminta maaf kepada warga Batam terkait ucapan berbau SARA itu. Menurut Prakash, warga India sudah cukup lama ada di Batam. Namun, sepanjang itu pula tidak pernah ada masalah dengan warga lain di Batam. ”Sekali lagi saya meminta maaf kepada warga Batam dan Indonesia atas speaking (perkataan, red) warga kami,” tambahnya.

Ke depan, kata Mr Prakash, pihaknya akan lebih meningkatkan sosialisasi, pertemuan untuk menjalin komunikasi yang lebih baik. ”Kita juga sangat respect kepada warga Batam dan Indonesia,” tambahnya. (hda)