Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH BIRO HUMAS, PROMOSI, DAN PROTOKOL

Jumat, 10 Desember 2010

UNJUK RASA ANTI KORUPSI BERUJUNG RICUH


Batam, 9/12 (ANTARA) - Unjuk rasa aktivis Gelombang Gerakan Rakyat (G-Ger) Batam memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia di Kantor Pemerintah Kota Batam, Kamis, berujung ricuh.

Pengunjuk rasa dan aparat kepolisian sempat saling mendorong sebelum sejumlah aktivis akhirnya berlarian dan dikejar polisi hingga ke Masjid Agung Batam.

"Kami mendorong mereka ke luar karena mereka memaksakan kehendak dan memukul polisi," kata Kapoltabes Batam, Rempang Galang (Barelang) Kombes Pol Eka Yudha.

Sebelum aksi saling dorong, para pengunjuk rasa juga sempat membakar lembaran kertas karton berisi tuntutan pemberantasan korupsi.

Menurut Kapoltabes, para pengunjuk rasa ingin melakukan pengrusakan sehingga polisi terpaksa membubarkan aksi mereka demi keamanan dan ketertiban.

Dalam insiden itu, polisi sempat mengamankan seorang aktivis yang diduga sebagai provokator, namun telah dilepaskan kembali.

Kapoltabes mengatakan akan memanggil Koordinator Lapangan G-Ger untuk meminta keterangan terkait insiden itu.

"Besok korlapnya, Azhari, kami panggil," kata dia.

Aktivis meminta bertemu dengan Wali Kota Ahmad Dahlan untuk mendiskusikan masalah korupsi yang melibatkan aparat pemerintahan.

"Kami meminta Wali Kota turun, temui kami, jangan hanya di kantor saja. Kami mendukung pemberantasan korupsi," teriak seorang pengunjuk rasa.

Unjuk rasa yang dilakukan G-Ger hanya berlangsung sekitar 15 menit, karena kondisi langsung menghangat, sebelum dibubarkan polisi.

Usai dibubarkan polisi, pengunjuk rasa langsung menghilang.

Ketika ingin dikonfirmasi lebih lanjut, telepon selular koordinator lapangan G-Ger, Azhari, tidak aktif.

Peringatan Hari Anti Korupsi Dunia di Batam diwarnai dengan rangkaian unjuk rasa yang digawangi sejumlah lembaga swadaya masyarakat dan organisasi masyarakat.

Sebelum G-Ger, LSM Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak), Kelompok Diskusi Anti 86 dan Serikat Pemuda Indonesia juga melakukan rangkaian unjuk rasa dan berjalan damai.

(T.Y011/B/A041/A041) 09-12-2010 17:02:40 NNNN

Copyright © ANTARA

Kamis, 09 Desember 2010

PEMBANGUNAN MASJID DI BATAM TERKENDALA LAHAN


Batam, 8/12 (ANTARA) - Pembangunan masjid di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau terkendala keterbatasan lahan yang dialokasikan bagi fasilitas umum di kawasan hunian.

"Lahan di Batam sangat terbatas terutama untuk kawasan hunian sehingga pembangunan masjid sering terkendala," kata Wali Kota Batam Ahmad Dahlan, disela-sela pelantikan Pimpinan Wilayah Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kepulauan Riau di Batam, Rabu.

Dia mengatakan Pemkot Batam bersama dengan BP Kawasan Batam dan Real Estate Indonesia Kota Batam terus melakukan koordinasi agar pengembang kawasan hunian merealisasikan alokasi lahan sebesar enam persen untuk fasilitas umum.

Jumlah masjid, lanjut dia, juga harus seimbang dengan populasi penduduk.

Data Kementerian Agama Kota Batam jumlah masjid yang berdiri di Batam dan pulau-pulau sekitarnya saat ini berjumlah 700 unit.

Wali Kota juga mengatakan selain kendala lahan, pengelolaan masjid juga terkendala pada pola manajemen yang diterapkan.

Menurut dia pengelolaan masjid bukan hanya sebagai tempat ibadah saja namun juga sebagai pusat kegiatan pengembangan masyarakat.

"Pemerintah Kota terus memberikan pelatihan kepada para takmir tentang bagaimana mengelola masjid," kata dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Masjid Indonesia Provinsi Kepri, Huzrin Hood mengatakan bahwa masjid sebagai pusat benteng pengembangan Islam.

Dia juga mengharapkan seluruh masjid harus memiliki sertifikat karena hampir 80 persen masjid di Kepri belum bersertifikat.

"Masjid harus bisa menjadi sarana kebaikan bagi seluruh masyarakat Kepulauan Riau jadi sertifikasi bagi masjid sangat diperlukan," kata dia.

(T.pso-142/B/M027/M027) 08-12-2010 20:09:01 NNNN

Copyright © ANTARA

Rabu, 08 Desember 2010

Kantor Pelabuhan Sekupang Batam Terendam

(sumber Tribun Batam,versi asli)
Tribun Batam - Rabu, 8 Desember 2010 14:03 WIB

Tribunnews Batam

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM -Para pendatang yang baru tiba di Pelabuhan Domestik Sekupang (PDS) Batam terpaksa dialihkan melalui pintu keberangkatan. Pasalnya, ruang kedatangan pelabuhan tersebut, tepatnya di ruang pemeriksaan perdaduk terendam air akibat air laut naik pada Rabu (8/12/2010) siang.

Ketinggian genangan air mencapai 30 centimeter. Tidak hanya di ruang perdaduk, kantor administrasi PDS, Kantor Kesehatan Pelabuhan serta pos Bea dan Cukai (BC) serta pos KPLP ikut tergenang air laut.

"Ruang kerja saya aja tergenang air laut, bahkan ruang tunggu pun ikut tenggelam akibat air laut pasang. Hari ini merupakan puncak pasang air laut dengan ketinggian mencapai 30 cintimeter," ujar ML Tobing, Kepala Pos Pelabuhan Domestik Sekupang.

Memurutnya, setiap tahunnya PDS sudah menjadi langganan tenggelam akibat air laut pasang. Ini terjadi karena keberadaan PDS masih rendah dibanding dengan ketinggian air laut yang naik.

Untuk mengatisapasi ini pihak BP Batam beberapa tahun kebelakang sudah meninggikan jalan menuju dermaga tempat feri bersandar diponton. Sementara ruang tunggu serta yang lain di dalam PDS masih belum ada perbaikan.

"Kita terpaksa bersih-bersih dan memindahkan beberapa dokumen penting agar tidak basah. Begitu juga dengan beberapa alat kelistrikan juga ikut dipindahkan," terangnya.

Sementara beberapa pekerja kebersihan berusaha mengeringkan lantai dari air laut dengan menggunakan sapu.

500 Massa Akan Gelar Aksi

Hari Anti Korupsi Sedunia
BATAM CENTRE- Sekitar 500 massa akan menggelar aksi demonstrasi memperingati Hari Anti Korupsi Sedunia, Kamis (9/12). Massa akan berdemo ke Pemko Batam, Kantor BP Batam, DPRD dan Kejari Batam. Elemen masyarakat yang akan melancarkan aksi damainya tersebut adalah Forum Lintas Pemuda Anti Korupsi (FPLAK), Barisan Lintas Aktivis dan Pemuda Anti Korupsi serta Gerakan Bersama Rakyat (Gebrak).
Ketua Barisan Lintas Aktivis dan Pemuda Anti Korupsi Hubertus mengatakan, pihaknya telah melayangkan surat peberitahuan ke Polresta Barelang mengenai rencana aksi demonstrasi tersebut. Dalam aksinya nanti, mereka menuntut penuntasan kasus-kasus korupsi yang saat ini masih mengendap di Kejari Batam.

"Kita juga mempertanyakan sikap DPRD Kota Batam yang bungkam seribu bahasa terhadap kasus-kasus korupsi. Serta ikut mendesak agar Kejagung mengganti Kajari Batam Ade Eddy Adhyaksa," ujar Hubertus, Selasa (7/12).

Ia mengatakan, pihaknya hanya fokus pada tiga kasus yang harus segera diambilalih dan ditangani oleh KPK. Yakni kasus dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos), dugaan korupsi terkait pengelolaan sampah dan dugaan korupsi terkait kasus mobil mewah.

Desakan menuntut Kajari Batam mundur akan dilakukan saat aksi digelar di kantor tersebut. Barisan Lintas Aktivis dan Pemuda Anti Korupsi juga akan menuntut agar Kejari Batam menangkap pejabat Pemko Batam yang terlibat dalam berbagai kasus korupsi, seperti kasus bansos dan kasus lainnya.

Di tempat berbeda, Simeon dari Forum Lintas Pemuda Anti Korupsi dalam aksinya juga mendesak KPK segera mengambil alih sejumlah kasus korupsi yang sampai saat ini penangananannya belum juga tuntas. Forum ini juga menyuarakan agar Kajari Batam segera diganti karena dinilai tidak mampu.

Koordinator LSM Gebrak Uba Ingan Sigalingging mengatakan akan menurunkan sebanyak 100 massa. Mereka nantinya akan menggelar aksi lebih lama di Kantor BP Batam dan Kejari.

Uba menyatakan, Gebrak akan menuntut penuntasan kasus dugaan korupsi dana bansos, kasus pencurian air di Pelabuhan Batuampar, kasus dugaan korupsi pengelolaan sampah, kasus X Ray Pelabuhan Batuampar. Juga kasus Jodoh Boulevard, kasus Airport Tax, kasus X Ray RSOB dan proses hukum terhadap penerima aliran dana pengadaan mobil pemadam kebakaran.

"Kasus-kasus ini, saat ini mengendap di Kejari Batam. Termasuk yang dilaporkan langsung oleh Gebrak, namun hingga kini belum ditindaklanjuti Kejari Batam," sebutnya. (hk/nn)

Rusun Bida Ampar Jadi Pemukiman "Kumuh"

(sumber Tribun Batam,versi asli)
Tribun Batam - Senin, 6 Desember 2010 14:53 WIB
Share |
Rusun-Bida-Ampar.jpg
Tribunnews Batam / Muhammad Ikhsan
Rusun Bida Ampar Jadi Pemukiman Kumuh

Laporan Muhammad Ikhsan, wartawan Tribunnews Batam.

TRIBUNNEWSBATAM, BATAM
- Warga di pemukiman rumah susun (Rusun) Bida Ampar milik Otorita Batam mengeluh. Mereka mencemaskan sistem manajemen Rusun yang terlihat tidak responsif dengan dengan berbagai keluhan dari setiap setiap penghuni.

"Banyak hal yang kita cemaskan, diantaranya adalah sampah, saat ini sampah dirusun ini tampaknya diangkut sekali sebulan, lihat saja saat ini setiap tong sampah sudah melimpah isinya keluar, dan hal ini hampir disemua blok Rusun," ujar Ded, salah seorang penghuni, Senin (6/12).

Kondisi tersebut ungkapnya diperparah dengan berserakannya sampah yang menumpuk akibat diusai oleh hewan seperti Kucing dan anjing. "Ini sangat jorok, disemua tempat sampah, berserakan. Bahkan lucunya petugas kebersihan disini hanya melihat kondisi itu, Lama-lama begini warga rusun ini bisa terancam oleh penyakit," gerahnya.

Hunian rusun yang dibangun 4 twin blok oleh Otorita Batam ini didominasi para pekerja di beberapa pabrik dan perusahaan di Batu Ampar. Namun kondisinya yang tidak terawat ditambah dengan manajemen Rusun yang tidak responsif membuat masyarakat pekerja ini heran.

"Padahal Rusun dibangun oleh pemerintah sebagai solusi mengantisipasi pemukiman kumuh di Batam. Ini kok sudah ada Rusun tapi malah serasa hidup dipemukiman kumuh. Kami berharap Otorita Batam selaku pengelola bisa memperhatikan hal ini, kapan perlu manajemen Rusun diganti dengan orang-orang yang berkompeten," ujar Ay warga di Blok B.

Kegerahan warga dengan manajemen Rusun ternyata tidak hanya masalah sampah saja, para warga ini menilai mulai dari adminisitrasi pembayaran, maintenance (pemeliharaan) hingga kemanan sangat bermasalah. Yang semakin membuat warga jengah adalah Pihak pengelola yang seakan acuh dengan keluhan warga.

"Pelayanan di Rusun ini sangat parah. Dalam adiminsitrasi pembayaran air dan listrik misalnya, kita memang dimudahkan karena tidak harus jauh-jauh ke PLN dan ATB untuk bayar air, namun yang disayangkan, pengelola disini setiap melakukan pembayaran kwitansinya tidak jelas karena rinciannya tidak sesuai. Bahkan kwitansi salah cetak. Itu tetap digunakan. Ketika saya tanyakan ke pihak manajemen, mereka tidak mau tahu, mereka hanya mengatakan jumlah itu sesuai dengan tagihan dari PLN atau ATB, jelas seorang ibu rumah tangga di rusun ini yang enggan menyebutkan namanya.

"Saya benar-benar kesal, walau setelah saya cek ke PLN ternyata memang tagihan saya sebesar itu, Tapi saya masih kesal karena dalam sebuah manajemen yang profesional kok bisa-bisanya memberikan kwitansi salah cetak ke pelanggan. Cuma jumlahnya saja yang betul, rinciannya salah. Dan itupun dilakukan terus walau sudah dikomplain oleh warga," terang ibu tersebut.

Sementara untuk keamanan, walau sifatnya kasuistik warga juga mengakui sering kehilangan peralatan elektronik seperi Laptop dan Hp. Modus pencurian ini diakui warga Rusun kerap terjadi di siang hari.

Jumat, 03 Desember 2010

RSOB Simulasi Penanganan Kebakaran

BATAM CENTRE- Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) bersama dengan Sub Direktorat Penanggulangan Bahaya Kebakaran (Subdit PBK) Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan (BP) Batam, menggelar simulasi penanggulangan bencana kebakaran selama 2 hari pada 1-2 Desember 2010 di RSOB, Sekupang. Dalam simulasi itu, ruang perawatan lantai 3 dan 4 Gedung B terjadi kebakaran. Sejumlah ruangan terbakar, sehingga mengancam keselamatan jiwa para pasien, anggota keluarganya dan para karyawan RSOB.

Tidak berapa lama kemudian, tim PBK BP Batam bersama 4 unit mobil pemadam datang pada waktunya. Aksi penyelamatan pasien dan pemadaman apipun dimulai.

Dalam simulasi ini terdapat dua pasien di lantai 3 dan 4 yang harus diselamatkan oleh petugas PBK dengan menggunakan mobil tangga dan diturunkan dengan tali. Sementara itu di lantai 2 ada pasien bayi yang diselamatkan oleh petugas PBK dengan menuruni tali keluar jendela.

Sejumlah dokter dan paramedis tampak sibuk menyelamatkan para pasien lainnya yang masih mampu berjalan atau dengan menggunakan tandu untuk ditangani di area aman dari lokasi kebakaran. Sementara korban yang mengalami luka segera ditangani di ruang gawat darurat dengan diangkut mobil ambulance. Tidak berapa lama, apipun dapat dipadamkan dan evakuasi para pasien dapat dilakukan.

Usai simulasi, Kepala RSOB BP Batam dr Sri Rafella Allaida, SpRM, MARS., mengatakan, mengingat penanganan bencana kebakaran diperlukan penanganan yang khusus, karenanya semua karyawan dan unit kerja lain harus terlatih. Karyawan juga diharapkan mampu bekerja secara tim dan saling koordinasi, sehingga jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisir.

Dalam simulasi ini, RSOB melibatkan tim rescue dan 80 personel karyawan, terdiri dari dokter, paramedis, karyawan bagian umum, tenaga sekuriti, bahkan tenaga cleaning service. Semua dilibatkan, mengingat bencana kebakaran sewaktu-waktu dapat terjadi dan untuk itu semua personel dan unit kerja dapat melakukan antisipasi.

Menurut Allaida, simulasi ini juga penting dalam rangka meningkatkan pelayanan RSOB kepada masyarakat. Ia menambahkan, setidaknya bagi para karyawan RSOB yang kebetulan tinggal berdekatan dengan RSOB, nantinya dapat ikut turun membantu evakuasi dan menangani pasien, jika terjadi kebakaran sewaktu-waktu.

"RSOB, pada simulasi ini berkoordinasi dengan Subdit PBK Direktorat Pengamanan BP Batam yang mengerahkan 25 personelnya, 1 mobil rescue, dan 3 mobil pemadam," katanya.

Kepala Subdit PBK Direktorat Pengamanan, Jarkasi, mengatakan, simulasi ini selain untuk meningkatkan keterampilan para karyawan RSOB juga untuk melatih kesigapan para petugas PBK BP Batam.

"PBK BP Batam, pada simulasi ini, selain mengevakuasi pasien, juga melakukan pemadaman api. Sehari sebelumnya juga diberikan teori-teori tentang bagaimana evakuasi dan penanganan bencana kebakaran," ujarnya.(hk/r,rl)

Pasien Sempat Kaget Ketika Lantai II RSOB Terbakar

Tribun Batam - Kamis, 2 Desember 2010

Simulasi-Kebakaran-di-RS-OB.jpg
Tribunnews Batam/ Zabur
EVAKUASI-Petugas PBK BP Batam sedang mengevakuasi korban selamat dilantai empat RSOB dengan menggunakan tangga mobil PBK, Kamis (2/12/2010)

(
Sumber Tribun Batam,versi asli)
TRIBUNNEWSBATAM, BATAM- Beberapa pasien yang sedang dirawat di Rumah Sakit Otorita Batam (RS0B) diturunkan dengan menggunakan tali akibat terjebak kobaran api. Bahkan bayi pun juga ikut diselamatkan dengan melalui jendela kemudian turun ke bawah dari lantai dua menggunakan tali.

Tidak hanya pasien pengunjung dan petugas medis pun ikut terjebak didalam gedung. Api yang diketahui berasal dari lantai dua ruang Melati kamar nomor 5 semakin membesar dan sudah merembet ke lantai tiga.

Beberapa petugas medis pun meminta pertolongan dengan melambaikan tangannya melalui jendela. Tidak lama kemudian tiga unit mobil penanggulangan bahaya kebakaran (PBK) Badan Pengusahaan (BP) Batam tiba dilokasi.

Staf dan petugas medis RSOB pun berusaha mengeluarkan pasien, pengunjung dan petugas medis yang terjebak api. Mereka pun mengevakuasi dengan berbagai cara, ada pasien yang menggunakan tandu dan diturunkan menggunakan tali, selain itu juga terlihat bayi diselamatkan oleh petugas medis dengan turun dari lantai dua menggunakan tali.

Sementara pasein, pengunjung, petugas. medis lainnya disematkan oleh petugas PBK BP Batam dengan menggunakan tangga mobil PBK dari lantai empat RSOB.

Selanjutnya lebih kurang setengah jam petugas PBK berhasil memadamkan api dan mengevakuasi seluruh korban yang terjebak api dengan dibantu beberapa staf dan petugas medis RSOB. Gambaran ini merupakan simulasi penanggulangan bencana di rumah sakit yang digelar RSOB dengan melibatkan PBK BP Batam, Kamis (2/12/2010).

Kepala instalasi diklat RSOB, dr Juliansyah Badar menyebutkan simulasi ini sudah ketiga kali digelar dengan melibatkan sepertiga staf dan karyawan RSOB. Simulasi yang digelar tersebut dibuat seperti kejadian asli. Setiap staf dan karyawan dilatih untuk siap serta tanggap dalam menghadapi musibah dan bencana yang setiap saat akan terjadi.

"Semua pasien sudah kita beritahukan beberapa waktu lalu sebelum digelar simulasi tersebut. Kita juga melibatkan PBK BP Batam dalam kegiatan ini serta seluruh petugas medis yang ada,"ujarnya singkat.

Sementara ketua panitia pelaksana simulasi, M Amir Pasya A SE mengatakan bahwa simulasi ini sengaja dibuat seperti kejadian benar. Simulasi itu juga melatih meningkatkan koordinasi yang baik saat terjadinya musibah.

RUMAH SAKIT OTORITA BATAM SIMULASIKAN PENANGANAN KEBAKARAN


Batam, 2/12 (ANTARA) - Rumah Sakit Otorita Batam Kepulauan Riau, bersama Subdirektorat Penanggulangan Bahaya Kebakaran Direktorat Pengamanan Badan Pengusahaan Batam menyimulasikan penanggulangan bencana kebakaran pada Kamis.

Dalam latihan dengan pemeragaan itu sejumlah ruang perawatan lantai 3 dan 4 gedung B Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB) seolah-olah terbakar, sehingga mengancam keselamatan jiwa para pasien, maupun anggota keluarga dan para karyawan.

Tidak berapa lama berselang, tim Penanggulanganan Bahaya Kebakaran (PBK) Badan Pengusahaan (BP) Batam tiba bersama empat unit mobil pemadam dan dengan tangkas bergerak.

Dua orang pasien di lantai 3 dan 4 diselamatkan petugas PBK dengan menggunakan mobil tangga dan diturunkan dengan tali, sedangkan di lantai 2, pasien bayi diselamatkan petugas PBK dengan menuruni tali ke luar jendela.

Sejumlah dokter dan paramedis berperan menyelamatkan pasien lain yang masih mampu berjalan atau menggunakan tandu untuk ditangani di area aman dari lokasi kebakaran.

Para korban yang luka segera ditangani di ruang gawat darurat dengan diangkut mobil ambulans.

Tidak berapa lama api pun dapat dipadamkan petugas dan evakuasi seluruh pasien dapat dilakukan.

Tim terlatih

Setelah simulasi, Kepala RSOB BP Batam, dr Sri Rafella Allaida SpRM MARS, mengatakan, bencana kebakaran di rumah sakit memerlukan penanganan khusus sehingga semua karyawan di semua unit kerja harus terlatih.

"Penanganan bahaya kebakaran melibatkan tim dalam koordinasi, sehingga jumlah korban dan kerugian dapat diminimalisasi," katanya.

Dalam simulasi itu, RSOB melibatkan tim "rescue" dan 80 personel karyawan, terdiri dari dokter, paramedis, karyawan bagian umum, tenaga sekuriti, bahkan tenaga pelayanan kebersihan.

Semua unsur dalam rumah sakit itu dilibatkan karena kebakaran sewaktu-waktu dapat terjadi dan semua personel dan unit kerja harus senantiasa bersikap antisipatif.

Menurut Allaida, latihan dengan peragaan penanggulangan kebakaran dan evakuasi pasien juga penting dalam rangka meningkatkan pelayanan RSOB kepada masyarakat.

Ia menambahkan, setidaknya bagi para karyawan RSOB yang kebetulan tinggal berdekatan dengan RSOB diharapkan ikut membantu evakuasi dan menangani pasien bila sewaktu-waktu terjadi kebakaran.

RSOB dalam simulasi tersebut berkoordinasi dengan Subdit PBK Direktorat Pengamanan BP Batam yang mengerahkan 25 personel, satu unit mobil "rescue", dan tiga unit mobil pemadam.

Kepala Subdit PBK Direktorat Pengamanan, Jarkasi mengatakan, kegiatan itu selain untuk menambah keterampilan para karyawan RSOB juga dapat meningkatkan kesigapan para petugas PBK BP Batam.

Sehari sebelumnya peserta simulasi diberi teori-teori evakuasi dan penanganan bencana kebakaran.

RSOB maupun Subdit PBK Direktorat Pengamanan BP Batam secara berkala akan melakukan simulasi peningkatan kemampuan dan keterampilan para karyawan dan petugas pemadam. (T. A013/ (T.A013/B/S019/S019) 02-12-2010 18:52:12 NNNN

Copyright © ANTARA

Kamis, 02 Desember 2010

Nur Setiajid Kasasi ke MA

Kasus Damkar OB

SEKUPANG (BP) – Mantan pimpinan proyek pengadaan proyek mobil pemadam kebakaran (Damkar) di Otorita Batam tahun 2005 yang kini terdakwa dalam kasus yang sama, Nur Setiajid tetap tak terima putusan Pengadilan Tinggi Riau. Ditemani kuasa hukumnya, dia pun mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA).
”Permohonan kasasi terdakwa sudah masuk ke MA tertanggal 1 November, dan masih dalam proses penanganan dan pemeriksaan di MA maksimal 110 hari plus 60 hari sesuai pasal yang dikenakan yakni pasal 28 dan 29 KUHAP,” ujar Humas PN Batam, Rudi Rafli Siregar SH kepada Batam Pos di Sekupang, Selasa (23/11).

UMK Rp1.180.000

(sumber Batam Pos,versi asli)

SUASANA rapat pembahasan UMK di kantor Wali Kota Batam, kemarin. Foto: M Noor Kanwa/BATAMPOS

Pengusaha dan serikat pekerja menyepakati upah minimum kota (UMK) Batam 2011 sebesar Rp1.180.000 atau naik 6,3 persen dibanding tahun ini. Angka ini naik Rp70 ribu dari UMK 2010 sebesar Rp1.110.000. Namun, UMK 2011 masih di bawah nilai kebutuhan hidup layak (KHL) sebesar Rp1.288.906.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Cahya mengaku, puas dengan kesepakatan itu. Apalagi, kenaikan 6,3 persen tak terlalu jauh dari harapan pengusaha. ”Ini jalan tengah. Jadi buat apa saling ngotot,” kata Cahya kepada Batam Pos setelah pertemuan tripartit di Kantor Wali Kota Batam, Senin (22/11).

Pengusaha sebelumnya berharap kenaikan UMK hanya empat persen. Sementara serikat pekerja menginginkan 12 persen. Angka itu sempat bergerak saat kedua belah pihak bernegosiasi di enam pembahasan lalu. Pengusaha menaikkan tawarannya dari empat menjadi lima persen. Sedangkan serikat pekerja menurunkan tawarannya dari 12 menjadi sembilan persen.

Kenaikan UMK akhirnya disepakati pada pertemuan ketujuh, kemarin. ”Kami dan serikat pekerja sama-sama mengerti. Makanya muncul angka 6,3 persen itu,” ungkap Cahya.

Bagi Cahya, bukan besar kecil kenaikan yang disepakati membuatnya puas, melainkan proses negosiasi yang berjalan lancar. ”Ini sejarah baru. Bayangkan, delapan tahun pembahasan UMK terdahulu selalu deadlock, baru kali ini lancar,” ujar pengusaha properti ini.

Sekadar mengingatkan, pembahasan UMK tahun lalu buntu (deadlock) setelah pengusaha dan serikat pekerja ngotot di angka masing-masing. Setelah itu, besaran UMK diambil alih Wali Kota Batam. Wali kota sendiri kemudian merekomendasikan angka Rp.1.110.000 kepada Gubernur Kepri. Gubernur Kepri akhirnya mengesahkan usulan wali kota itu menjadi UMK Batam.

Pascaputusan Gubernur, Apindo Kepri yang merasa keberatan mengajukan gugatan. Setelah melalui proses panjang di Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Pekanbaru dan Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PTTUN) Medan, Juli lalu akhirnya diputuskan UMK Batam 2010 Rp1.110.000.

Cahya berharap, situasi seperti tahun-tahun sebelumnya tak terulang. Dari itu, dia berinisiatif membuat nota kesepahaman (memorandum of undestanding/ MoU) dengan pekerja terkait pembahasan UMK. Tujuannya, supaya pembahasan tak berlarut-larut dan hubungan pengusaha dengan serikat pekerja tetap harmonis.

Pembahasan Lebih 7 Jam

Pembahasan UMK 2011 berjalan cukup alot. Angka kesepakatan UMK 2011 didapatkan setelah melalui pembahasan tujuh jam. Para pekerja sampai enam kali menggelar perundingan di antara sesama serikat pekerja karena tak kunjung mendapat angka kesepakatan.

Ketua Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (SPSI) Batam, Syaiful Badri mengatakan, pembahasan awal pekerja maupun pengusaha membawa angka berdasarkan versinya. Pengusaha meminta Rp1.154.400, sedangkan serikat pekerja meminta Rp1.209.900.

Menurut Syaiful, kesepakatan tersebut karena ada itikad baik pengusaha dan pekerja. Salah satu hal yang penting, dalam pembahasan tersebut disepakati adanya tim pengontrol harga bentukan pemerintah. ”Selama ini yang kami rasakan kenaikan upah tak berdampak pada peningkatan kesejahteraan. Pasalnya, UMK naik diikuti kenaikan harga bahan pokok yang lebih tinggi daripada kenaikan upah,” katanya.

Tim tersebut, akan mulai survei harga barang sejak Januari 2011. ”Apabila ada kenaikan harga barang, kita akan mempertanyakan pemerintah,” paparnya.

Kepala Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam, Rudi Sakyakirti mengatakan ,angka UMK ini didapatkan berdasarkan kesepakatan bersama. Hal ini merupakan langkah baik setelah tujuh tahun pembahasan UMK selalu deadlock. ”Sudah final, tak akan ada lagi gugat-menggugat,” katanya.

Terkait tim pengontrol harga, Rudi menyebutkan, tim Pemko Batam yang dikomandoi Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disparindag) Kota Batam akan memantau pasar. Tugas tim ini yakni meningkatkan ekonomi pekerja. Salah satunya membentuk koperasi pekerja dengan dukungan pemerintah dan pengusaha.

”Koperasi pekerja diharapkan bisa memotong mata rantai distribusi barang, sehingga harganya bisa murah,” imbuh Rudi.

Kepala Disperindag Kota Batam, Ahmad Hijazi mengatakan, komponen makanan dan minuman 35 persen mempengaruhi UMK. Untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, pemerintah perlu menekan harga kebutuhan pokok.

”Pembentukan koperasi pekerja bisa jadi salah satu solusi. Pemerintah tinggal menentukan instrumen kebijakan,” katanya.

Apalagi, aku Hijazi, Batam sudah ditetapkan kawasan Free Trade Zone (FTZ), seharusnya harga kebutuhan pokok bisa ditekan. ”Namun ini melibatkan kementrian dan pemerintah pusat. Kita akan mendorong pemerintah pusat untuk membuat kebijakan yang berpihak pada rakyat, khususnya pekerja,” akunya.

Menurut Cahya, pada prinsipnya pengusaha memahami keinginan serikat pekerja menyamakan UMK dengan KHL. ”Masalahnya KHL kita ini kan tak terkontrol. Terutama harga sembako. Makanya pengusaha kesulitan menyamakan UMK dengan KHL seperti diinginkan teman-teman pekerja,” tukasnya. (ros/ vie/ amr)