Info Barelang

KUMPULAN BERITA BP BATAM YANG DIHIMPUN OLEH DIREKTORAT PTSP & HUMAS

Selasa, 27 April 2010

Apakah Indeksasi (Bagian 3)





Ditulis oleh Ir Benny Andrianto, MM ,
Selasa, 27 April 2010 08:44 (sumber Batam Pos,versi asli)

PADA artikel sebelumnya kita telah sama – sama tahu tentang siapa ATB dan apakah manfaat penyesuaian tarif. Barangkali yang masih merasa asing di telinga kita adalah tentang Indeksasi. Saat ini masyarakat Batam yang notabene adalah juga para pelanggan ATB banyak bertanya–tanya tentang Indeksasi. Apakah gerangan indeksasi itu, apakah hal ini sama dengan penyesuaian tarif ? Kalau sama lalu apa untung dan ruginya menggu-nakan indeksasi ?

Indeksasi adalah merupakan suatu formula yang memuat bobot beberapa komponen utama yang mempengaruhi harga air yang selanjutnya dikalikan dengan Indeks atau harga riil komponen terkait. Formula ini yang selanjutnya digunakan untuk melakukan penyesuaian tarif air yang berlaku. Sehingga sekarang jelas bisa dimengerti bahwa indeksasi adalah suatu alat yang digunakan untuk melakuan proses penyesuaian tarif.

Di dalam formula indeksasi yang digunakan memuat 5 (lima) komponen utama yaitu, air baku, bahan kimia, listrik, gaji dan biaya lain – lain. Selanjutnya setiap komponen tersebut diberi bobot secara proporsional sesuai dengan besarnya kontribusi pada biaya produksi. Indikator perubahan pada formula ini menggunakan biaya riil atau bisa juga menggunakan indeks.

Dengan menggunakan formula indeksasi ini, maka proses perhitungan untuk penyesuaian tarif menjadi sangat transparan dan mudah dipahami oleh semua pihak. Akhirnya, baik ATB maupun pelanggan sama–sama dapat menarik manfaat dari penyesuaian tarif indekasi ini
Dimana :
Tn = Tarif air Bersih periode ke- n
T0 = Tarif air Bersih Dasar (awal, pada periode 0)
W1 = Bobot biaya air baku dalam struktur biaya
W2 = Bobot biaya bahan kimia dalam struktur biaya
W3 = Bobot biaya energi (listrik) dalam struktur biaya
W4 = Bobot biaya gaji tenaga lokal-langsung dalam struk tur biaya
W5 = Bobot biaya operasional lainnya dalam struktur biaya

W1 + W2 + W3 + W4+ W5 = 1

Lalu mengapa harus menggunakan Formula Indeksasi ? Apakah tidak ada cara lain yang lebih baik dan lebih mudah? Memang sebenarnya banyak cara bisa dilakukan untuk melakukan penyesuaian tarif, sebagaimana dimasa lalu juga telah dilakukan oleh ATB.

Namun demikian pada kenyataannya banyak menimbulkan syak wasangka atau kecurigaan dari berbagai pihak,dan juga apakah alasan ATB untuk mendapat penyesuaian tarif bisa diterima atau tidak. Dimasa lalu dalam setiap proses penyesuaian tarif, semua pihak selalu ingin terlibat. Mereka rasanya kurang bisa percaya satu dengan yang lain.


Disamping itu juga muncul kesan bahwa berbagai alasan dan proses yang terjadi dalam melakukan perhitungan tidak transparan, atau bahkan tidak profesional. Disinilah pentingnya menggunakan formula indeksasi.

Lebih Transparan
Dengan formula ini semua menjadi sederhana, akuntabel, konsisten, lebih transparan dan bisa dimonitor. Artinya bahwa proses penyesuaian benar-benar objektif dan mudah dimengerti oleh semua pihak. berbagai pihak termasuk pelanggan, karena semua bobot dan indeks yang digunakan diterbitkan oleh badan yang kredibel, sehingga hasilnya tidak perlu diragukan lagi.

Semua angka yang terdapat pada pembobotan atau juga angka indeks dilakukan kajian dan audit oleh pihak yang berwenang dan memiliki kredi-bilitas yang tidak perlu diragu-kan lagi. Sebagai tambahan informasi saat ini ATB selalu diaudit oleh auditor independen kelas dunia Price Water House and Coopers (PwC). Sementara itu semua indeks yang digunakan diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), baik untuk indeks bahan kimia maupun inflasi di kota Batam.

Dengan demikian proses penyesuaian tarif dapat dilakukan secara reguler setiap tahun, sehingga pada akhirnya penyesuaian tarif tidak membebani pelanggan. Proses penyesuaian tarif kali ini telah menggunakan formula indeksasi tersebut, dan hasil perhitungan menunjukkan perlu penyesuaian tarif sebesar 18,39 persen untuk masa penyesuaian dari sejak tahun 2007-2009. Namun demikian pada kesempatan ini hanya akan dilakukan penyesuaian rata-rata sebesar 18 persen.

Proses Pembahasan Indeksasi

Proses pembahasan formula indeksasi telah dilakukan dengan sangat komprehensif dengan melibatkan pihak yang kredibel seperti BPKP, dan BPP SPAM. Itulah sebabnya dengan menggunakan rekomendasi dari BPP SPAM tentang Formula Indeksasi No.039A/BPPSPAM/ VII/ 2009, maka terhitung penyesuaian tarif kali ini indeksasi mulai diaplikasikan.

Proses penyesuaian tarif selanjutnya akan dilakukan setiap tahun dengan menggunakan formula yang sama. Selanjutnya akan dilakukan kajian kembali setiap 4 (empat) tahun sekali terhadap bobot komponen dalam formula indeksasi tersebut. Beberapa rujukan yang digunakan hingga terbitnya proses penyesuaian tarif kali ini adalah sebagai berikut,


1. Permendagri No. 23 Tahun 2006 Tentang Kebijakan Penyesuaian Tarif, Struktur Tarif dan pemulihan seluruh Biaya Produksi.

2. Rekomendasi Dewan No. 02/170/REK/II tahun 2007 Tentang amandemen konsesi, dan keterlibatan BPP SPAM sebagai badan yang Independen dalam proses penyesuaian tarif

3. Rekomendasi BPP SPAM No.45/BPPSPAM/IV/2007 Tentang rekomendasi tarif tahun 2007 dan aplikasi Indeksasi Tarif pada Penyesuaian Tarif selanjutnya

4. Surat Keputusan Ketua OB No.106/KPTS/KA/XII/ 2007 Tentang penyesuaian tarif tahun 2008 dan Aplikasi Indeksasi Tarif Per Maret 2009

5. Rekomendasi BPP SPAM No.039A/BPPSPAM/VII/ 2009 Tentang rekomendasi formula Indeksasi

6. Peraturan BP Batam No.1 tahun 2010 Tentang Perubahan tarif air bersih dengan menggunakan formula indeksasi

Memang pada penyesuaian tarif dengan menggunakan sistem indeksasi kali ini tidak melibatkan rekomedasi DPRD Batam. Hal ini semua adalah karena penyesuaian tarif dengan menggunakan sistem indeksasi ini adalah merupakan suatu proses kelanjutan dari semua proses keputusan yang ada sebelumnya, sebagaimana terlihat pada rujukan diatas.

Dimana antara keputusan yang satu terkait dan berlanjut dengan keputusan selanjutnya. Dalam hal ini ATB telah melakukan sosialisasi yang pertama kali kepada DPRD Batam pada 08 April yang baru lalu.

Dengan memperhatikan kronologis dan rujukan tersebut diatas, maka sebenarnya proses penyesuian tarif dengan menggunakan formula indeksasi ini telah berjalan selama kurang lebih 2 (dua) tahun. Disamping itu juga telah melibatkan semua instansi terkait sesuai dengan kapasitas dan kewenangan instansi yang bersangkutan. Jadi memang tidak ada maksud untuk melakukannya secara diam-diam atau bahkan ada kesan tiba-tiba.

ATB yang sebenarnya adalah merupakan perusahaan air swasta, dalam proses penyesuaian tarif tidak me-ninggalkan kaidah dan hukum yang berlaku. Hal ini tercermin dengan digunakannya Permendagri No.23 tahun 2006, yang sebenarnya hanya digunakan untuk PDAM. Inilah bentuk apresiasi dan komitmen yang jelas menunjukkan ATB sangat mengedepankan kepentingan umum.

Sebenarnya proses penyesuaian tarif dengan menggunakan formula indeksasi ini sudah harus dilakukan per Maret 2009. Namun demikian mengingat bahwa saat itu proses penyusunan formula indeksasi belum tuntas, maka penyesuaian tarif baru bisa dilakukan mulai Mei 2010 melalui tagihan Bulan Juni 2010. Ini artinya sudah terdapat keterlambatan selama 1 (satu) tahun lebih dari yang seharusnya.

Dengan demikian, memang sudah sepantasnya bila penyesuaian tarif kali ini tidak mengalami penundaan lagi. Hal ini mengingat setiap penundaan dapat berakibat pada terganggunya program pengembangan kapasitas, jaringan dan sambungan baru bagi pelanggan.
Struktur Tarif (bersambung)

Manfaat Penyesuaian Tarif (Bagian 2)





Ditulis oleh BENNY ANDRIANTO ,
Jumat, 23 April 2010 08:29 (sumber Batam Pos,versi asli)

PADA tulisan terdahulu kita telah membaca tentang mengapa tarif harus disesuaikan, dan seberapa efisien ATB di tengah kondisi ekonomi saat ini. Saat ini marilah kita ikuti tentang manfaat penyesuaian tarif. Sudah semestinya kenaikan tarif harus selalu memberikan manfaat sebesar – besarnya bagi masyarakat Batam pada umumnya dan pelanggan Batam pada khususnya.

Bila kita memperhatikan ting-kat pertumbuhan pelanggan, se-lama 14 tahun pelanggan telah meningkat dari 13 ribu menjadi 175 ribu perbulan Maret 2010. Artinya terdapat peningkatan lebih dari 1300 persen atau 13 kali lipat.

Sementara kapasitas suplai meningkat dari 450 l/det menjadi 2835 l/det atau terdapat peningkatan hampir 650 persen.
Nilai investasi hingga saat ini telah lebih dari Rp460 miliar, dan lebih dari Rp240 miliar telah kembali ke pemerintah baik melalui pajak kepemerintah pusat, pajak ke pemerintah daerah, maupun pembayaran royalti. Ini semua karena peningkatan tarif, tidak ada yang sia – sia.

Pada penyesuaian tarif yang lalu kami telah berhasil mening-katkan kapasitas sebesar 650 l/det, yaitu melalui pembangunan WTP Tanjung Piayu II dan WTP Duriangkang III. Pembangunan jaringan trans-misi dari Simpang Beringin ke Simpang Plamo, pipa distribusi dari Duriangkang ke Kabil, Duriangkang ke Tanjung Piayu, dan dari Ladi ke Tiban. Atau lebih dari 220 km pipa baru telah dipasang hingga tahun 2009. Selama 2 (dua) tahun ATB telah menambah sambungan baru sebesar lebih dari 34 ribu dan hingga saat ini tidak ada pelanggan dalam waiting list, kecuali yang sedang menunggu persiapan jaringan.

Kami menyadari bahwa saat ini masih terdapat daerah yang belum mendapat aliran air secara penuh, baik karena kontinuitas maupun kualitas air, sehingga pelanggan merasa kurang puas dengan pelayanan ATB. Namun demikian sebenarnya telah terdapat peningkatan kualitas selama 2 (dua) tahun terakhir. Pada tahun 2007 terdapat lebih dari 30 persen daerah yang mengalami stress area, akan tetapi saat ini daerah yang mengalami stress kurang dari 8 persen.

Penyesuaian tarif akan selalu dibutuhkan guna terus memperbaiki kualitas layanan dan jangkauan pelayanan. Pada kesempatan ini, ATB mohon maaf yang sebesar– besarnya kepada pelanggan yang tinggal di wilayah tertentu di Batuaji dan sekitarnya dan juga beberapa daerah Bengkong, karena hingga saat ini ATB masih belum mampu melayani air secara kontiniu.

Tetapi dengan penyesuaian tarif ini diharapkan dalam waktu 8-10 bulan kedepan kualitas pelayanan air ATB di Batuaji dan sekitarnya pasti akan meningkat secara signifikan. Banyak pihak menyampaikan bahwa penyesuaian tarif hanya akan memberikan keuntungan bagi ATB saja, karena ATB adalah perusahaan swasta yang tentunya pasti berorientasi pada profit.

Hal itu mungkin ada benarnya, kalau ATB berorientasi pada profit, tetapi sebenarnya itu tidak 100 persen benar. Sebagai tambahan informasi bahwa selama 3 tahun kedepan ATB berencana untuk melakukan penambahan investasi baru sebesar hampir Rp400 miliar.

Dan itu artinya bahwa jumlah investasi yang ditanamkan selama 3(tiga) tahun hingga tahun 2011, lebih besar dari total investasi yang ditanamkan ATB selama 13 tahun terakhir atau selama 16 tahun. ATB akan memiliki total investasi sebesar 0.74 trilliun. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sebagian besar semua bentuk penyesuaian tarif telah dan akan dikembalikan dalam bentuk investasi, dan ini semua adalah hanya untuk memberikan kepuasan pelangan yang lebih baik.

Lebih dari itu semua artinya adalah bahwa penerimaan pemerintah yang akan diterima baik dalam setoran pajak dan penerimaan lain serta nilai akhir aset ATB akan menjadi sangat besar. Kesimpulan akhirnya, pelang-gan dan pemerintahlah yang pada akhirnya akan mendapatkan manfaat terbesar dari setiap penyesuaian tarif.

Pada tahun 2010 ini ATB akan menambah kapasitas pengolahan air sebesar 700 l/det dengan membangun IPA Duriangkang IV yang diperkirakan akan selesai per April 2011. Saat ini kapasitas terpasang sebesar 2.835 l/det hanya akan bertahan hingga Maret 2011, sehingga keterlambatan pembangunan Duriangkang IV akan berakibat adanya kekurangan suplai air ke pelanggan.

Di samping itu tambahan kapasitas ini akan mampu menangani setidaknya 70,000 tambahan sambungan pelang-gan baru dan akan mampu bertahan hingga setidaknya tahun 2013. ATB juga akan memasang pipa distribusi diameter 800 mm dari Simpang Panbil hingga Tembesi atau sepanjang lebih kurang 6 km. Pipa ini nantinya akan digunakan untuk suplai air ke wilayah Batu Aji dan sekitarnya, sehingga dengan selesainya pipa ini diharapkan kualitas pela-yanan suplai ke daerah tersebut akan meningkat.

Semua hal tersebut diluar ke-giatan rutin untuk terus mere-majakan jaringan, memelihara jaringan dan memberikan tam-bahan sambungan baru. Semua upaya tersebut adalah untuk tetap bisa meningkatkan caku-pan pelayanan yang saat ini telah mencapai 95 persen.

Dikembalikan ke Pelanggan

Saat ini ATB juga telah melakukan berbagai program kepedulian sosial CSR (corporate social responsibility) yang pada akhirnya dinikmati kembali oleh masyarakat Batam. Program yang mendukung kesehatan seperti adanya program donor darah. Disamping itu juga melalui berbagai aktifitas olah raga melalui even ATB Cup pada cabang Futsal, Volley, dan Badminton. Baru – baru ini ATB berhasil menggelar turnamen Futsal akbar yang memperebutkan piala bergilir ATB yang diselenggarakan tepat pada Hari Air Sedunia tanggal 22 Maret yang baru lalu.

Dalam waktu dekat akan segera diresmikan beberapa water fountain (air siap minum) di beberapa lokasi utama di kota Batam. Seperti di bandara Hang Nadim, Ferry Terminal Batam Centre, BP Batam, Pemko Batam, dan Kantor Pusat ATB. Kedepan akan dilakukan pengembangan ke sekolah– sekolah, sehingga nanti bisa membantu para siswa untuk mengenal air lebih dekat. ni semua adalah merupakan sebagian dari kontribusi ATB kepada masyarakat Batam.

Program Beasiswa

ATB akan segera meluncurkan program ATB Bea Siswa Peduli untuk seluruh siswa di Batam, sehingga nantinya mulai tahun ajaran baru Juli 2010 para siswa di Batam dapat mulai menik-matinya. Kami juga ingin membantu dan memberi kontribusi dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Memang bahwa Beasiswa ini untuk pertama-tama hanya ditujukan kepada siswa yang berprestasi, dan semoga pada kesempatan yang akan datang mampu menjangkau kriteria yang lebih luas.

Satu hal yang tidak pernah terlupakan adalah program pemeliharaan lingkungan. Kelangsungan air sebagai sumber kehidupan tidak terlepas dari kemampuan kita menjaga lingkungan. Efek pemanasan global berakibat sangat buruk pada ketersedian air di Bumi ini. Apalagi bagi Batam yang nota bene hanya tergantung pada curah hujan.

Keberadaan lingkungan yang hijau terutama di daerah tangkapan air perlu harus dijaga dari waktu ke waktu. ATB menggalakkan program penana-man pohon diberbagai kesempatan, baik didaerah tangkapan air maupun juga di sekolah sekolah. Marilah kita jaga lingkungan hidup ini agar tetap hijau dan asri, sehingga ketersedian air dapat terus bertahan hingga masa depan. Apakah Indeksasi? (bersambung)

*Wakil Presiden Direktur ATB

Tarif Indeksasi ATB





Ditulis oleh Ir Benny Andrianto, MM ,
Senin, 19 April 2010 08:30 (sumber Batam Pos,versi asli)

BennyGEGAP gempita, gemuruh, hiruk pikuk, riuh rendah beberapa hari terakhir ini. Ini semua berkaitan dengan PT. Adhya Tirta Batam (ATB) yang mengumumkan hajatannya untuk melakukan penyesuaian tarif. Semua pihak tiba–tiba kompak untuk saling memberi komentar, keluhan atau sebagian bahkan menghujat. Mereka kadang lupa berbicara atas nama siapa, untuk siapa, lalu apakah isinya relevan dengan isu utamanya atau sekedar klise?

Sungguh kasihan ATB dan BP Batam yang tiba – tiba harus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas semuanya. Beginilah repotnya kalau sudah jadi selebritis, semua aktivitas yang dilakukan oleh ATB semua pihak merasa harus tahu, harus dimintai ijin, merasa paling berhak untuk ngurusin ATB. Hal ini wajar rasanya, karena Air memang merupakan kebutuhan hajat hidup orang banyak, sehingga memang semua orang perlu tahu tentang rencana ATB untuk menyesuaikan tarif melalui proses Indeksasi.

Dimanapun kebijakan penyesuaian tarif selalu identik dengan kebijakan tidak populer, sehingga memang perlu jelas, dan kehati–hatian untuk membuat semua pihak dapat menerima kebijakan ini.

ATB mengucapkan terima kasih atas semua perhatian, komentar, masukan, keluhan ataupun kritik berkaitan dengan penyesuaian tarif ini. Mohon maaf bila kegiatan ATB telah dianggap lancang, datang terlalu cepat atau tidak melibatkan pihak terkait.

Untuk sementara marilah kita buka hati, singkirkan semua pikiran negatif,dan ijinkan kami untuk membuat hal ini menjadi lebih jelas dan dapat diterima oleh semua pihak.

Mengapa Tarif Air Perlu Naik?

Pada dasarnya dalam dunia ini semua barang kebutuhan utama cenderung akan naik harganya. Hal mana kenaikan harga bahan utama disebabkan oleh adanya inflasi dan atau adanya ketidak seimbangan supply dan demand. Dalam hal air sebagai kebutuhan hidup utama jelas semakin lama akan menjadi semakin mahal. Jumlah volume air yang makin menyusut akibat adanya pemanasan global dan tingginya pencemaran air telah mengakibatkan harga air menjadi semakin mahal.

Batam adalah merupakan sebuah pulau yang unik dimana ketersediaan air baku hanya bergantung pada curah hujan yang ditampung pada 6 (enam) dam yang ada. Malangnya ketersediaan air tanah/ air sumur di Batam jauh dari memadai, baik dari sisi jumlah maupun kualitas. Hal ini menyebabkan ketergantungan pada air hujan menjadi semakin besar.

Harga air untuk domestik semakin lama juga akan menjadi semakin mahal, karena kelompok pelanggan yang memberikan subsidi tidak tumbuh secepat kelompok pelanggan domestik.

Satu hal lagi yang tidak terelakkan adalah adanya faktor CPI (Indeks kebutuhan utama- inflasi), dimana tingkat inflasi di Negara berkembang seperti Indonesia akan cenderung tinggi dan fluktuatif. Kita beruntung bahwa selama 3 tahun terakhir tingkat CPI cenderung stabil dan menurun, tetapi masih tetap terdapat nilai inflasi.

Perusahaan Air Paling Efisien

Batam sebagai daerah tujuan investasi, harus merasa beruntung dengan adanya ATB. ATB saat ini adalah merupakan salah satu perusahaan air yang efisien, kalau tidak ingin dibilang malah yang paling efisien.

Sekedar informasi ATB saat ini ramai dikunjungi oleh berbagai PDAM, Pemda, dan DPRD dari kota lain, baik untuk melakukan studi banding atau bahkan training. Banyak daerah sangat menginginkan pengelolaan air dapat dikelola sebaik dan seefisien ATB. Itulah sebabnya dalam MAPAM XI yang baru lalu ATB mendapat anugerah PERPAMSI Award untuk tingkat Metro, sungguh membanggakan bagi kita semua warga Batam.

Beberapa hal yang digunakan sebagai tolok ukur sebuah efisiensi, yaitu tingkat kebocoran (NRW), jumlah karyawan/1000 pelanggan, dan cakupan pelayanan. Kebocoran ATB per bulan Pebruari 2010 tercatat 26,5 persen. Dibandingkan dengan rata – rata kebocoran/NRW PDAM di Indonesia adalah 38 persen. Sementara ratio karyawan per 1000 pelanggan ATB sebesar 2,4. Sedangan standar untuk parameter ini adalah 4 ( makin kecil makin efisien). Cakupan pelayanan ATB sebesar 95 persen, sedangkan rata – rata cakupan pelayanan PDAM di Indonesia sebesar 60 persen. Dengan melihat semua parameter diatas, jelas bahwa ATB memang sudah sangat efisien.

ATB secara terus menerus melakukan evaluasi dan perencanaan yang matang dalam setiap program pengembangan jaringan dan kapasitas suplai. Hal ini dimaksudkan agar setiap biaya rupiah yang dibayarkan oleh pelanggan untuk setiap tetes air benar-benar bisa memberikan nilai tukar yang terbaik bagi pelanggan.

Survei kepuasan pelanggan selalu dilakukan setiap 2 tahun sekali oleh lembaga survey independen dengan standar International. Inilah yang menjamin bahwa semua program investasi dan kualitas operasional dapat dilakukan secara efektif dan memberikan nilai maksimal bagi pelanggan.

Saat ini kondisi ekonomi kita sudah kembali sehat, dan bahkan sebenarnya banyak pihak yang mengatakan bahwa sebenarnya Indonesia tidak mengalami krisis (ingat kasus Century).

Kondisi pasar modal memang sempat mengalami kehancuran ditahun 2008, dimana IHSG sempat menyentuh angka 1100 jatuh dari angka 2830 hanya dalam waktu beberapa bulan. Namun saat ini kondisi pasar modal telah kembali menyentuh angka 2845 atau artinya bahkan lebih tinggi dari rekor yang pernah dicapai sebelumnya.

Yang lebih mengejutkan adalah Indonesia merupakan Negara dengan tingkat pemulihan pasar modal tercepat di dunia. Dengan demikian rasanya tidak tepat bila dikatakan bila saat ini kita masih mengalami kesulitan ekonomi. Batam adalah satu – satunya daerah yang tetap tumbuh bahkan saat Indonesia mengalami krisis tahun 1997/1998.

Dan Batam adalah merupakan salah satu daerah dengan PDRB tertingggi. Hal ini membuktikan bahwa kegiatan ekonomi di Batam berjalan dan tumbuh dengan baik. Tak ada lagi yang perlu diragukan dengan kemampuan/ kondisi ekonomi Batam. ***

Wakil Presiden Direktur ATB

Jalur Lambat Belum Maksimal





Ditulis oleh Redaksi ,
Selasa, 27 April 2010 08:03 (sumber Batam Pos,versi asli)

BATAM CENTRE (BP) – Upaya melonggarkan jalan Jenderal Soedirman, Batam Centre dengan membuat jalur tambahan di sisi kiri dan kanan jalan utama Batam itu, belum maksimal. Meski dibangun lebih setahun lalu, jalur tersebut belum juga dipasangi rambu.

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Batam, Muramis mengatakan, pihaknya belum bisa memaksimalkan jalur itu karena belum ada serah terima dari Otorita Batam. ”Kalau sudah serah terima, pasti kami pasang rambu-rambu dan perlengkapan lalu lintas lainnya di jalur itu,” katanya, kemarin.

Menurut Muramis, pemasangan rambu di ROW 200 tersebut sudah masuk dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Batam 2010. Hanya saja, Dishub belum berani memasangnya karena belum ada kepastian, terutama dasar hukum pengaturan jalur itu.

Pembangunan jalur tambahan di sisi kiri dan kanan jalan Jenderal Soedirman sedianya untuk mengurangi kepadatan arus lalu lintas di jalan protokol tersebut. Selain kendaraan pribadi, baik roda dua dan empat, jalan itu juga dilintasi angkutan umum dan kendaraan berat pengangkut kebutuhan industri di Batam yang jumlahnya terus meningkat.

”Supaya tak terlalu padat, nanti akan diatur. Misalnya motor dan angkutan umum kita arahkan untuk menggunakan jalur lambat. Sedangkan mobil pribadi dan kendaraan pengangkut kebutuhan industri menggunakan jalan utama,” ungkapnya. (ros)

Revisi Belum Diketok, Dana Sudah Cair





Ditulis oleh M Taher ,
Selasa, 27 April 2010 07:59 (sumber Batam Pos,versi asli)
Sidang Kasus Damkar OB

Pengadilan
Negeri (PN) Batam kembali menggelar sidang korupsi pengadaan mobil pemadam kebakaran (damkar) Otorita Batam (OB), dengan terdakwa Nur Setiadjid, Senin (26/4). Dalam sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan saksi Ratnawati yang merupakan Kabag Perbendaharaan Biro Keuangan OB.
Fakta yang terjadi di persidangan cukup mengagetkan pengunjung sidang. Pasalnya, saksi Ratnawati mengatakan, pencairan dana anggaran pengadaan mobil damkar OB tersebut, ternyata dilakukan sebelum direvisi anggaran tahun 2005 diketok (disahkan).

PEMPROV KEPRI MINTA KEPASTIAN PENGOPERASIAN PT DRYDOCKS

Tanjungpinang, 26/4 (ANTARA) - Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) meminta kepastian kepada manajemen PT Drydocks Graha World kapan perusahaan itu akan mulai beroperasi usai terjadinya amuk pekerja Kamis (22/4) pagi.

"Kami meminta kepastian kepada PT Drydocks Graha World kapan akan beroperasi kembali agar buruh ada kepastian kapan mulai bekerja," kata Wakil Gubernur Kepri, HM Sani di Tanjungpinang, Senin.

Sani mengatakan, kepastian pengoperasian perusahaan itu pascakerusuhan sangat diperlukan agar buruh mendapat kepastian dan tidak kebingungan.

"Kami juga akan berbicara dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Batam untuk menjelaskan bahwa Batam sangat kondusif dan aman untuk berinvestasi," ujar Sani.

Menurut dia, Pemprov Kepri beserta seluruh unsur Muspida memberikan jaminan keamanan berinvestasi di Kepri maupun Batam khususnya.

"Bila perlu kami juga akan ke Singapura memberikan penjelasan kepada para pengusaha yang berinvestasi di Batam bahwa Batam aman dan sangat kondusif," ujarnya.

Selain itu menurut dia, Pemprov Kepri juga akan berbicara dengan pihak serikat pekerja buruh agar sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban berinvestasi di Batam.

Sebelumnya PT Drydock berencana akan mulai beroperasi pada Senin (26/4) namun ditunda hingga waktu yang belum diketahui.

"Betul, operasional ditunda karena perbaikan belum selesai," kata Kapoltabes Barelang Kombes Pol Leonidas Braksan usai bertemu manajemen PT Drydocks di Batam.

Kerusakan bangunan dan perlengkapan kerja di galangan kapal PT Drydocks World Graha mencapai 75 persen.

"Secara kasat mata, hampir 75 persen rusak atau terbakar," kata Leonidas di Batam, Senin.

Selain bangunan dan kendaraan, perlengkapan kerja seperti skema pembuatan kapal juga terbakar, sehingga operasional pabrik kapal belum bisa dimulai.

"Memang rencananya Senin ini, tapi ditunda karena banyak yang masih rusak," kata dia.

Sementara itu, sekitar 6.000 pekerja Drydocks Graha World memadati sekitar galangan kapal pada sekitar pukul 07.00 WIB.

Para pekerja berharap sudah bisa mulai bekerja Senin pagi, seperti yang dikatakan manajemen beberapa waktu lalu.

Kapoltabes melakukan pendekatan kepada para pekerja , menjelaskan bahwa, operasional pabrik belum bisa dimulai karena banyak alat yang rusak atau terbakar. Pekerja dapat memahami dan langsung bubar.

Tidak ada gejolak saat pembubaran massa. Para pekerja membubarkan diri secara tertib.

Seorang pekerja yang ditemui sekitar pukul 11.00 WIB mengatakan kecewa tidak bisa mulai bekerja pada Senin.

"Saya khawatir tidak digaji, karena penggajian saya berdasarkan jam kerja. Kalau begini, dari mana saya cari nafkah untuk keluarga," katanya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Drydocks World Asia Tenggara Denis Welch mengharapkan kondisi kerja di Drydocks World Graha di Tanjunguncang, Batam, dapat segera pulih agar dapat menyelesaikan pesanan sesuai jadwal.

"Kami sedang mengerjakan beberapa proyek, di antaranya `jack-up` dan `rig semi-submersible` yang hanya bisa dioperasikan di wilayah tertentu di dunia," katanya.

Welch mengatakan sudah berkomunikasi dengan pimpinan dua pemesan dari luar negeri supaya tidak khawatir sebab pengerjaan akan terus berlanjut dan selesai sesuai dengan jadwal.

Pengoperasian kembali perusahaan, akan berguna menjaga nama baik perusahaan, Kota Batam dan juga Indonesia pada umumnya. Insiden pada Kamis pagi merupakan pengalaman traumatik bagi dirinya secara pribadi maupun sejawatnya.

Kompleks Drydocks World Graha (PT Graha Trisakti Industri) pada Kamis (22/4) pagi diamuk ribuan pekerja yang tersinggung ucapan seorang penyelia berkebangsaan India, sehingga anak perusahaan dari Drydocks World Dubai itu lumpuh untuk sementara.

Drydocks World Graha berdiri sejak 2007 setelah induknya di Dubai mengakuisisi saham Labroy Pte Ltd., Singapura. Industri peralatan pengeboran minyak dan gas lepas pantai itu terletak di atas lahan seluas 49,5 haktare, berdekatan dengan Drydocks World Pertama dan Drydocks World Nan Indah.

Welch menjelaskan, Drydocks Graha mempekerjakan hampir 20.000 orang, dan sebagai pimpinan untuk wilayah Asia Tenggara ia menjalankan misi meningkatkan jumlah karyawan tetap serta membangun pusat pelatihan. (T.KR-NP/B/A033/A033) 26-04-2010 20:36:52 NNNN

KAPOLTABES BARELANG: KERUSAKAN DRYDOCKS 75 PERSEN

Batam, 26/4 (ANTARA) - Kerusakan bangunan dan perlengkapan kerja di galangan kapal PT Drydocks World Graha , Batam mencapai 75 persen, kata Kapoltabes Barelang(Batam, Rempang, Galang) Kombes Leonidas.

"Secara kasat mata, hampir 75 persen rusak atau terbakar," kata Leonidas di Batam, Senin.

Selain bangunan dan kendaraan, maka perlengkapan kerja seperti skema pembuatan kapal juga terbakar, sehingga operasional pabrik kapal belum bisa dimulai.

"Memang rencananya Senin ini, tapi ditunda karena banyak yang masih rusak," kata dia.

Sementara itu, sekitar 6.000 pekerja Drydocks Graha World memadati sekitar galangan kapal pada sekitar pukul 07.00 WIB.

Para pekerja berharap sudah bisa mulai bekerja mulai Senin pagi, seperti yang dikatakan manajemen beberapa waktu lalu.

Kapoltabes melakukan pendekatan kepada para pekerja , menjelaskan bahwa, operasional pabrik belum bisa dimulai karena banyak alat yang rusak atau terbakar. Pekerja dapat memahami dan langsung bubar.

Tidak ada gejolak saat pembubaran massa. Para pekerja membubarkan diri secara tertib.

Seorang pekerja yang ditemui sekitar pukul 11.00 WIB mengatakan kecewa tidak bisa mulai bekerja pada Senin.

"Saya khawatir tidak digaji, karena penggajian saya berdasarkan jam kerja. Kalau begini, dari mana saya cari nafkah untuk keluarga," kata dia.

Y011/B/A011)

(T.Y011/B/A011/A011) 26-04-2010 12:46:23 NNNN

Senin, 26 April 2010

Investasi asing di Batam stabil

(sumber Bisnis Indonesia, 26 April 2010)

BATAM: Dewan Kawasan Pelabuhan dan Perdagangan Bebas Batam, Bintan dan Karimun (DK FTZ BBK) memastikan insiden kerusuhan yang terjadi di PT Drydock World Graha, tidak mengganggu kepercayaan investor asing terhadap daerah tersebut.

Ketua DK FTZ BBK Ismeth Abdullah mengatakan iklim investasi dan industri di kawasan FTZ BBK masih berjalan kondusif.

"Kerusuhan di Drydock secara umum tidak memengaruhi investasi di Provinsi Kepri, khususnya di kawasan FTZ BBK. Tidak ada pemodal asing yang berpikir pindah atau mengalihkan investasinya dari kawasan BBK," ujarnya dalam rilisnya, kemarin.

Menurut dia, pascainsiden kerusuhan, dewan kawasan sudah menghubungi para investor asing yang berada di Inggris, Korea Selatan, Jepang, Singapura dan dari negara lainnya.

DK, katanya, sudah menjelaskan kepada mereka pokok masalah yang terjadi dan upaya-upaya yang sudah dilakukan guna mengatasi insiden tersebut sehingga saat ini suasana sudah terkendali.

Kalangan investor, lanjutnya, menyatakan dapat memahami kondisi yang terjadi dan tetap berkomitmen melanjutkan investasi dan industrinya di kawasan FTZ BBK khususnya di Batam.

Kepada para pemodal asing DK menjelaskan hasil kesimpulan tim khusus bentukan Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau yang ditugaskan menyelidiki insiden kerusuhan yang terjadi di PT Drydock World Graha, Tanjung Uncang pada Kamis 22 April.

Tim terdiri dari unsur-unsur yang mewakili DK FTZ BBK, Disnaker Kepri, Badan Promosi dan Investasi Daerah Kepri, Badan Kesbanglinmas Kepri dan Disperindag Kepri.

"Secara prinsip kerusuhan itu murni masalah internal perusahaan karena hubungan antarpekerja yang kurang harmonis," kata Ismeth.

Dia menegaskan tim khusus menyimpulkan kerusuhan hanya bersifat kasuistik karena hampir seluruh perusahaan di kawasan itu sudah menciptakan hubungan kerja yang harmonis antara pekerja lokal dan pekerja asing.

Menurut dia, kerusuhan yang terjadi adalah spontanitas karena pekerja lokal di perusahaan tersebut merasa diperlakukan tidak pada tempatnya atau ucapan yang menyakitkan hati, sama sekali bukan masalah pengupahan.

"Banyak perusahaan offshore yang investasi dan pekerjaannya lebih besar dari Drydock, tidak pernah mengalami kejadian seperti itu karena sudah menciptakan hubungan antarpekerja yang harmonis."

Persuasif


DK sendiri, katanya, terus melakukan upaya-upaya persuasif, meminta para pekerja untuk menahan diri dan pihak perusahaan juga sudah diminta mengambil langkah-langkah perbaikan.

Pihak manajemen Drydock juga sudah menyadari kekeliruannya dan menyatakan komitmennya ke DK untuk mengurangi jumlah pekerja asing di perusahaan tersebut.

Selain itu, sambung dia, perusahaan akan melakukan pembinaan pemahaman budaya dan adat istiadat lokal kepada para pekerja asing yang masih dipekerjakannya agar kejadian serupa tidak terulang kembali.

Manajemen Drydock juga sudah berencana akan kembali melanjutkan aktivitas industrinya mulai pekan depan dan menjamin tidak akan ada pemecatan terhadap para pekerja lokal di perusahaan itu. (K40)

Bisnis Indonesia

'Amuk pekerja bisa terjadi di Jakarta'

Apindo berupaya pererat komunikasi ekspatriat-pekerja

(sumber Bisnis Indonesia, 26 April 2010)

JAKARTA: Apindo DKI Jakarta mengingatkan peristiwa amuk pekerja seperti terjadi di PT Drydock World Graha di Batam, berpeluang terjadi di Jakarta.

Untuk itu pemerintah daerah dan pengusaha diminta harus meningkatkan koordinasi dan kerja samanya guna mencegah kejadian seperti itu.

Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia DKI Jakarta Soeprayitno mengatakan pemerintah dan kalangan dunia usaha harus bersama-sama mengantisipasi jangan sampai terjadi peristiwa amuk pekerja seperti terjadi di Batam pada 22 April.

"Kami optimistis kejadian itu bisa dicegah karena adanya hubungan komunikasi yang sudah terjalin baik selama ini termasuk dengan kalangan ekspatriat," katanya kepada Bisnis, kemarin.

Dia menjelaskan upaya antisipasi yang harus dilakukan pemerintah dan kalangan dunia usaha mencakup aspek jaminan keamanan pekerjaan, pendapatan dan sosial pekerja.

Dalam kasus peristiwa Batam, paparnya, lebih banyak dipicu faktor keamanan sosial pekerja yang merasa terusik oleh tindakan unsur manajemen yang kebetulan seorang ekspatriat, sehingga menyulut kemarahan dan solidaritas para pekerja.

"Keamanan sosial pekerja atau social security yang terganggu lebih dominan menjadi penyebab terjadinya peristiwa Batam."

Ketua Kamar Dagang dan Industri DKI Jakarta Eddy Kuntadi mengatakan jaminan keamanan yang kondusif sangat diharapkan semua pihak agar kelangsungan perusahaan dapat terjaga dengan baik.

"Pada prinsipnya para pelaku bisnis, termasuk karyawan membutuhkan jaminan keamanan yang kondusif."

Pertemuan rutin


Soeprayitno mengatakan pihaknya akan berupaya maksimal agar komunikasi antarpengusaha, ekspatriat dan karyawan lainnya dapat terjaga dengan baik di antaranya melalui cara menggelar pertemuan rutin.

"Pihak Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI, Pemda Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi, sudah meminta kalangan ekspatriat untuk dapat membaur lebih akrab dengan para pekerja agar terjadi interaksi sosial yang baik."

Kalangan ekspatriat, tuturnya, menyambut baik masukan tersebut dengan kesediaan belajar bahasa dan budaya yang dominan di kalangan pekerja a.l. Jawa atau Sunda.

"Metode itu mampu meredam kesenjangan antarekspatriat dan pekerja lainnya terutama terkait pendapatan dan tunjangan lain," katanya.

Dia mengatakan situasi kerja yang relatif sudah baik di Jakarta dan daerah sekitar merupakan hasil dari pembinaan pemerintah dan kamar dagang dan industri masing-masing negara serta dialog yang intensif melalui forum resmi maupun individu ekspatriat.

"Satu hal lagi yang sangat penting adalah sistem internal di dalam perusahaan itu sendiri yang dapat memberikan kenyamanan kerja bagi kalangan karyawan," tandasnya.

Berdasarkan data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta, pada 2008 sebanyak 5.173 pekerja asing mengajukan izin bekerja yang tersebar bekerja di lima wilayah se-DKI Jakarta dengan sebaran yakni Jakarta Selatan 2.286 orang, Jakarta Timur 323 orang, Jakarta Pusat 1.084 orang, Jakarta Barat 394 orang, Jakarta Utara 1.086 orang.

Dilihat dari tahun ke tahun, jumlah tenaga kerja asing di Jakarta menunjukkan pertumbuhan cukup signifikan selama kurun waktu 2003-2008, yakni pada 2003 sebanyak 3.521 orang, tahun 2004 (4.255 orang), pada 2005 (4.267 orang), pada 2006 (5.155 orang), tahun 2007 (5.283 orang), pada 2008 (5.173 orang). (Yusran Yunus) (nuruddin. abdullah@bisnis.co.id)

Oleh Nurudin Abdullah
Bisnis Indonesia

Jak Art Hadirkan Musik Klasik





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 08:20 (sumber Batam pos,versi asli)

ASAH Indonesia Tour III

BATAM CENTRE (BP) – Jak Art bekerja sama dengan Badan Pengusahaan (BP) Batam dan Pemerintah Kota Batam menggelar pertunjukan musik klasik yang dikemas dalam acara ASAH Indonesia Tour III, Senin (26/4) pukul 19.30 WIB di Cendana Ballroom Hotel Novotel, Jodoh.

Pertunjukan musik klasik itu akan menghadirkan Ary Sutedja (Piano), Asep Hidayat (Cello) dan Mikhail David (Visual Artist).

Ketua panitia pelaksana acara Uba Ingan Sigalingging kepada Batam Pos, Jumat (23/4) mengatakan, Ary Sutedja sendiri merupakan pianist yang mendapat gelar Master of Music untuk pertunjukan piano dari Universitas Towson di Baltimore, Maryland tahun 1992. Saat itu ia berhasil memperoleh penghargaan Outstanding Achievement in Music dengan predikat summa cum laude.

Berbagai pertunjukan musik klasik keliling dunia seperti Australia, Eropa, Korea, Jepang, Thailand pernah ia lakoni bersama rekan-rekannya saat di grup Nuansa Klasika.

Sementara Asep Hidayat, seorang cellist yang dikenal selektif dalam memberikan resital dan konser baik untuk solo cello maupun musik kamar di tanah air maupun mancanegara, seperti Malaysia, Singapura, Thailand, Australia dan Jepang. Dan terakhir Mikhail David merupakan konseptor acara ASAH. (cr3)

Drydocks Tak Akan Hengkang





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 07:49 (sumber Batam Pos,versi asli)

BKPM: Tak Pengaruhi Investasi

Pasca kerusuhan berbau SARA yang melibatkan pekerja lokal dan tenaga kerja asing (TKA) asal India, Kamis (22/4) lalu, Muspida Kota Batam dan manajemen PT Drydocks World Graha langsung menggelar pertemuan tertutup, kemarin (23/4) di lantai 5 Gedung Pemko Batam.

Pada pertemuan itu disepakati PT Drydocks World Graha akan beroperasi kembali Senin (26/4) mendatang. ”Hal itu karena melihat kondisi perbaikan kantor yang mengalami kerusakan, akibat kerusuhan tersebut,” kata Wawako Batam Ria Saptarika, saat konferensi pers, kemarin siang.

Pertemuan tertutup dihadiri Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan, Kajari Batam Tatang Sutarna SH MH, dan Asisten II Bidang Ekbang Kota Batam, Syamsul Bahrum, dan manajemen Drydocks.

Wawako menambahkan, sebelum beroperasi kembali, manajemen PT Drydocks akan bertemu dengan para pekerja lebih dulu. ”Mungkin pertemuan dengan pekerja untuk menyampaikan kesepakatan yang sudah kita capai,” paparnya.

Ria juga menegaskan, karyawan tetap akan mendapat hak-haknya sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara, Chief Executive Officer (CEO) PT Drydocks World Graha, Denis Welch kembali meminta maaf atas kerusuhan yang terjadi.

Dennis menegaskan, pihaknya berharap bisa beroperasi sesegera mungkin. Menurut Denis, pihaknya akan menyelesaikan seluruh masalah dengan para pekerja, agar pekerja bisa cepat kembali bekerja seperti biasa. ”Kami berniat untuk melakukan investasi di Batam, sehingga tentu saja suasana yang kondusif sangat diperlukan,” tambahnya.

Berapa kerugian galangan kapal milik pengusaha Dubai itu? Dennis belum bisa memastikan. ”Saya belum melihat situasi di sana,” tambahnya.

Dennis mengaku saat ini Drydocks World punya beberapa kontrak pembuatan kapal dengan beberapa perusahaan besar. Ia mengungkapkan pekerja Drydocks tengah mengerjakan dua unit kapal berteknologi tinggi.

”Kerusuhan yang terjadi di Drydocks membuat beberapa perusahaan menghubungi, menanyakan kondisi kapal mereka,” akunya.

Dennis mengaku bahwa ia ditelepon pemesan kapal dari London dan Amerika, guna menanyakan kapal pesanan mereka. ”Customer dari London dan Amerika sudah khawatir. Namun pemesan kapal dapat memahami situasi yang terjadi di Batam,” katanya.

BKPM: Tak Pengaruhi Investasi Asing

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Gita Wirjawan yakin, kerusuhan pekerja asing dan pekerja WNI di PT Drydocks World Graha di Tanjunguncang, Kamis (22/4) lalu tidak mempengaruhi investasi asing di Indonesia, khususnya di Kepri, karena persoalan ini hanya bersifat internal Drydocks.

”Saya sudah bertemu Duta Besar India, Singapura, dan Malaysia. Mereka mengatakan, kejadian tersebut adalah permasalah intern perusahaan saja, tidak mengaitkan permasalahan nama bangsa dan negara. Mereka mengerti dan memaklumi hal ini terjadi dan tidak akan mempengaruhi investasi mereka,” ujar Gita saat berkunjung ke PT Drydocks World Graha, kemarin sore.

Saat berkunjung, Gita dan rombongan didampingi Ketua Otorita Batam Mustofa Widjaja, Chief Executive Officier (CEO) PT Drydocks World Graha, Denis Welch, dan sejumlah pejabat lainnya dari Jakarta dan Batam.

Gita menyarankan agar, manajemen dan sub kontraktor membicarakan setiap situasi yang bisa menyebabkan pertikaian, sehingga hal ini tidak terjadi untuk yang kedua kalinya.

Hal senada diungkapkan oleh Ketua Otorita Batam/BP Batam, Mustofa Widjaja. Menurutnya, kerusuhan yang terjadi di Tanjunguncang, tidak sampai mempengaruhi minat investor berinvestasi di Batam. ”Kita harapkan demikian. Meski memang kita mendapat banyak telepon terkait kerusuhan yang terjadi di Drydocks,” kata Mustofa.

Menurut Mustofa, telepon yang masuk tidak hanya sebatas dari keluarga pekerja asing yang bekerja di Batam, tapi pemesan kapal yang dikerjakan di Tanjunguncang saat ini juga banyak yang bertanya kondisinya.

”Kita katakan, kalau semuanya baik-baik saja,” ujar Mustofa.

Mustofa juga berharap agar seluruh lapisan masyarakat bisa menjaga suasana Batam tetap kondusif. ”Ini agar investor tidak ragu berinvestasi di Batam. Menjaga suasana kondusif tentu saja menjadi tanggung jawab pemerintah bersama seluruh elemen masyarakat,” pungkasnya. (hda/cr2/nur)

Warga India Minta Maaf





Ditulis oleh Redaksi ,
Sabtu, 24 April 2010 07:50 (sumber Batam Pos,versi asli)

Devarajan PrakashKetua Persatuan Warga India di Batam, Mr Devarajan Prakash, menyampaikan permintaan maaf atas perkataan berbau SARA yang diucapkan Prabaharan Vijay Ganesh, warga India yang memicu kerusuhan di PT Drydocks World Graha, Tanjunguncang, Kamis (22/4).

”Saya minta maaf atas perkataan warga kita tersebut,” katanya sambil menangis—di hadapan muspida di ruang pertemuan Wali Kota Batam lantai 5.
Prakash mengaku seluruh warga India sudah berkumpul dan selanjutnya meminta maaf kepada warga Batam terkait ucapan berbau SARA itu. Menurut Prakash, warga India sudah cukup lama ada di Batam. Namun, sepanjang itu pula tidak pernah ada masalah dengan warga lain di Batam. ”Sekali lagi saya meminta maaf kepada warga Batam dan Indonesia atas speaking (perkataan, red) warga kami,” tambahnya.

Ke depan, kata Mr Prakash, pihaknya akan lebih meningkatkan sosialisasi, pertemuan untuk menjalin komunikasi yang lebih baik. ”Kita juga sangat respect kepada warga Batam dan Indonesia,” tambahnya. (hda)

KONDISI INVESTASI BATAM TETAP BAIK


Batam, 25/4 (ANTARA) - Kondisi investasi di Batam tetap baik usai kerusuhan antar pekerja Drydocks World Graha, Kamis (22/4) dan belum ada laporana negatif, kata Ketua Badan Pengusahaan (BP) Batam Mustafa Widjaya, Minggu.

Ia mengatakan, para investor asing belum ada yang menanyakan langsung mengenai kondisi perekonomian di Batam kepada BP Batam.

"Umumnya, mereka menanyakan langsung ke Drydocks," katanya. Namun demikian, ia mengaku khawatir perselisihian pekerja yang berujung kerusuhan akan membawa citra buruk pada kawasan industri terkemuka di Asia Tenggara itu.

Di tempat terpisah, Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan mengatakan kondisi investasi dan keamanan di Batam kondusif. "Batam tetap aman untuk warga negara asing," tambahnya.

Sementara itu, Chief Executive Officer Drydocks World Asia Tenggara Denis Welch mengharapkan kondisi kerja di Drydocks World Graha segera pulih agar dapat menyelesaikan pesanan sesuai dengan jadwal.

"Kami sedang mengerjakan beberapa proyek, di antaranya `jack-up` dan `rig semi-submersible` yang hanya bisa dioperasikan di wilayah tertentu di dunia," katanya.

Welch mengatakan sudah berkomunikasi dengan pimpinan dua pemesan dari luar negeri supaya tidak khawatir sebab pengerjaan akan terus berlanjut dan selesai sesuai dengan jadwal.

Pengoperasian kembali perusahaan akan berguna untuk menjaga nama baik perusahaan, Kota Batam dan juga Indonesia.

Sebelumnya, Kepala BKPM mengatakan pihaknya Jumat pagi menjumpai calon investor dan mereka yang telah menanamkan modal, juga dengan Duta Besar Singapura, India, Malaysia, Myanmar, Portugal, serta perwakilan pekerja dari negara-negara tersebut untuk menjelaskan kejadian di Drydocks World Graha.

"Alhamdulillah, semua dapat menyikapi secara positif bahwa kejadian (di Drydocks World Graha) adalah spesifik di dalam satu perusahaan saja, bukan di seluruh Batam apalagi di Indonesia."

Pemerintah akan terus meningkatkan iklim yang baik bagi investasi, katanya. (T.Y011/B/S004/S004) 25-04-2010 09:32:03 NNNN

Jumat, 23 April 2010

Wako Harus Tanggung Jawab

Jumat, 23 April 2010 (sumber Sijori Mandiri,versi asli)
BATAM-Ketua Komisi IV DPRD Kota Batam Riky Indrakari meminta Walikota Batam Ahmad Dahlan bertanggung jawab atas terjadinya kerusuhan di PT Drydock World Graha, Tanjunguncang. Riky menilai kerusuhan itu dipicu oleh lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh Pemerintah Kota (Pemko) Batam terhadap keberadaan tenaga kerja asing (TKA).

"Kerusuhan ini bukan lagi menjadi tanggung jawab seorang Kadisnaker. Tapi ini akibat lemahnya kepemimpinan Ahmad Dahlan selaku Walikota. Maka sudah barang tentu, kerusuhan yang terjadi di PT Drydock ini adalah tanggung jawab Ahmad Dahlan selaku Walikota," tegas Riky di ruang kerjanya.

Terkait dengan lemahnya pengawasan ini, lanjut Riky, Walikota selaku ketua tripartit dalam waktu dekat akan dipanggil dan memberikan penjelasan kepada Komisi IV.

Riky mengatakan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kota Batam hanya memiliki empat petugas pengawas lapangan. Jumlah ini sangat jauh dari kebutuhan karena perusahaan yang harus diawasi mencapai 3.900 perusahaan. Ia membandingkan kondisi Batam dengan Semarang yang memiliki 20 petugas pengawas untuk mengawasi sekitar 300 perusahaan.

"Di Batam ini sangat aneh. Orang yang mengikuti pendidikan PPNS, tapi setelah itu tidak dipakai, bahkan ditempatkan di posisi lain. Sementara orang yang sama sekali tidak memahami masalah pengawasan justru ditempatkan di bagian pengawasan. Ini terjadi karena kebijakan seorang pimpinan dalam hal ini Walikota," tandas politisi PKS itu.

Anggota Komisi IV Rusmini Simorangkir mengatakan, kerusuhan ini merupakan akumulasi dari sejumlah kasus yang terjadi selama ini. Sebab, dari beberapa kali dilakukan rapat dengar pendapat (RDP), dengan PT Drydock, kata Rusmini, diketahui ada empat poin yang tidak dipenuhi oleh perusahaan selama ini.

Pertama mengenai hak normatif pekerja, seperti upah minim, tidak ada jamsostek dan minimnya safety. Kedua, adanya invoice yang tertunda dan mengakibatkan terlambatnya pembayaran upah karyawan. Ketiga, tidak adanya perbaikan fasilitas pekerja, dan keempat masalah izin operasional sub kontraktor.

"Kejadian ini memang secara spontanitas. Tapi saya melihat kejadian ini merupakan akumulasi dari kekesalan mereka (karyawan). Karena hak-hak mereka terzolimi dan hak-hak normatif karyawan banyak yang tak terpenuhi. Jadi kata-kata berbau penghinaan itu hanya sebagai pemicu saja," kata Rusmini yang langsung turun ke lokasi kejadian kemarin.

Jangan Dibawa ke Isu SARA

Sementara itu, Ahmad Dahlan mengimbau masyarakat jangan terpancing dengan keributan yang terjadi di Drydock. Ia meminta keributan antara seorang atasan dan bawahan dalam sebuah perusahan tidak boleh dibawa ke masalah isu suku, agama, ras dan antar golongan (SARA).

"Saya mengajak kepada semua masyarakat maupun para tenaga kerja jangan terpancing dengan keributan itu. Mari bersama-sama kita jaga Batam ini dari masalah-masalah yang dapat mengurangi kondusifnya Batam sebagai tujuan investasi," ujar Dahlan. "Kita harus jaga Batam ini, agar terus berkembang dan maju."

Senada dengan Walikota Batam, Ketua Otorita Batam Mustofa Widjaja juga meminta semua pihak menahan diri terkait masalah ini. Kata Mustofa, pihak perusahaan harus menjalin komonikasi yang baik dengan tenaga kerjanya. Para TKA juga diminta Mustofa membina hubungan baikdengan tenaga kerja yang lain.

"Batam ini tempat kita semua. Pekerja sudah menjadikan Batam sebagai tujuan untuk masa depan mereka. Jangan dikorbankan gara keributan ini," ujar Mustofa.

Dia mengatakan, keributan yang kebetulan disebabkan oleh TKA asal India ini jangan dibawa ke isu SARA. "Sangat rugi Batam yang sudah menjadi kota tujuan investasi tercoreng dalam masalah tenaga kerja ini. Batam sudah dikenal dunia internasional sebagai tujuan investasi dan itu harus dipertahankan."

"Kami berharap pihak berwenang cepat dalam menangani masalah ini. Meskipun kami baru sebatas mendapat informasi, namun OB sangat mendukung upaya tercapainya keamanan dengan tujuan Batam tetap kondusif," tambahnya. (sm/li/rl)

TKA Ramai-ramai Tinggalkan Batam

Jumat, 23 April 2010 (sumber Sijori Mandiri,versi asli)
BATAM-Buntut dari kerusuhan yang terjadi di PT Drydocks World Graha, ratusan TKA yang bekerja di sejumlah perusahaan ramai-ramai eksodus keluar Batam menuju Singapura. Para pekerja asing terlihat menyerbu sejumlah pelabuhan internasional, seperti Pelabuhan Sekupang, Pelabuhan Marina City, Pelabuhan Batam Centre, dan Pelabuhan Harbour Bay. Para pekerja asing itu ketakutan menjadi sasaran amukan massa.

"Kami takut. Apalagi sebenarnya masalah itu hanya masalah sepele. Namun kabar yang beredar di kalangan ekspatriat sangat menakutkan. Jadi, untuk sementara kami mengungsi dulu ke Singapura," ujar Juliar Chong (34), warga negara Taiwan, eksekutif salah satu perusahaan di Batam.

Hal senada juga dikatakan oleh Melky warga negara Belanda yang bekerja di Tanjunguncang. Menurutnya, akibat kerusuhan itu hampir seluruh pekerja yang bekerja di perusahaan tempatnya bertugas mulai beringas melihat orang asing. "Kami takut jika ini terus berlangsung. Nyawa kami jadi taruhannya. Untuk itu kami mengungsi dulu hingga keadaan menjadi tenang," ujarnya.

Sementara itu, dari 33 TKA PT Drydocks yang diamankan di Poltabes Barelang rata-rata mengaku tidak mengetahui asal muasal kericuhan yang terjadi di perusahaan tempat mereka bekerja. "Saya tidak tahu apa-apa dan tidak mengerti kenapa kerusuhan itu bisa terjadi. Karena saya berada di kantor, lagian kita selama ini baik-baik saja sepoerti teman bahkan keluarga," ujar Ansor Kumar, pekerja Drydock keturunan India asal Singapura.

Ia mengaku sangat ketakutan melihat kejadian tersebut. Ia bahkan merencanakan untuk pulang ke negara asalnya di Singapura. "Saya sangat ketakutan, padahal saya hanya bekerja dan tidak tahu apa-apa. Rencananya besok (hari ini-red) saya hendak pulang ke Singapura karena takut terjadi kembali,"ujarnya.

Ansor Kumar, konsultan di PT Drydoks juga menyatakan hal serupa kalau dirinya tidak tahu apa-apa. "Selama ini saya mempunyai hubungan baik dengan orang Indonesia. Namun saya tidak mengerti bisa terjadi seperti ini," ujar Ansor. "Saya takut menjadi sasaran kemarahan orang Indonesia," tambahnya.

Dikatakannya bahwa dari ratusan orang asing yang bekerja di Drydocks, hanya orang india yang menjadi korban kekerasan. Sementara TKA asal Norwegia dan Belanda yang juga banyak di perusahaan itu tidak ikut menjadi sasaran kemarahan pekerja.

Pantuan Sijori Mandiri di lapangan. para TKA keturunan India yang dievakuasi ke Mapoltabes Barelang ada yang membawa serta anak serta isterinya.

Tidak Berdampak ke Investasi

Pejabat Ketua Umum Kadin Adi Tahir menganggap kerusuhan di PT Drydocks secara ekonomi tidak menimbulkan dampak yang signifikan bagi investasi Indonesia. "Karena kejadian tersebut termasuk kategori kejadian lokal dan bisa diisolir, maka tidak ada dampak yang signifikan bagi investasi di Indonesia," katanya.

Selain itu, Adi menambahkan, pihaknya berharap agar Kadin setempat dapat mengatasi lebih cepat masalah tersebut, terutama bagi keselamatan kerja karyawan. (sm/mi/oke/dh)

Tanjunguncang Rusuh





Ditulis oleh Redaksi ,
Jumat, 23 April 2010 07:53 (sumber Batam Pos,versi asli)

38 Mobil Rusak, 9 Karyawan Luka, Gudang dan Kantor Drydock Dibakar

Arumugan, karyawan PT Drydock World Graha, Tanjunguncang berkewarganegaraan India yang menjadi korban kerusuhan, kemarin (22/4) dievakuasi rekan-rekannya dengan pengawalan ketat pihak kepolisian. Foto: M Noor Kanwa

TIM BATAM POS, Batam
redaksi@batampos.co.id Alamat E-mail ini dilindungi dari robot spam. Anda perlu mengaktifkan JavaScript untuk melihatnya

Kerusuhan pecah di PT Drydock World Graha, Tanjunguncang, Batam. Sembilan pekerja perusahaan galang kapal itu luka parah. Dua orang Indonesia, enam pekerja berdarah India. Sedikitnya 38 mobil rusak berat, 5 di antaranya dibakar.

Tak hanya itu, lantai dasar gedung manajemen Drydock juga dibakar dan menghanguskan dokumen-dokumen penting perusahaan itu.

Gudang penyimpanan berbagai bahan dan peralatan yang bersebelahan dengan gedung manajemen juga dibakar. Ruang Departemen Quality Control (QC) juga tak luput dari aksi pengrusakan. Kaca-kaca dan sejumlah peralatan kerja di ruangan itu hancur.

Kerusuhan ini pecah sekitar pukul 07.00 WIB, Kamis (22/4) kemarin saat para pekerja yang masuk pagi baru saja memulai aktivitasya. Termasuk sejumlah pentinggi di masing-masing departemen di perusahaan itu, baru saja menggelar rapat pagi.

Salah satunya, bagian kelistrikan proyek L205. Pagi itu mereka menggelar rapat di salah satu ruangan gedung manajemen. Di ruangan tersebut hadir para supervisor, baik berkewarganegaraan Indonesia maupun pekerja asing (WNA) berdarah India, Bangladesh, Filipina, Vietnam, dan sejumlah pekerja asing lainnya.

Entah apa yang salah, tiba-tiba salah satu supervisor bagian kelistrikan berdarah India, Ganesh mengeluarkan kata-kata kasar dengan menyebut, ”All Indonesian stupid” (semua orang Indonesia bodoh). Umpatan ini membuat supervisor berkewarganegaraan Indonesia yang hadir di ruangan itu naik pitam dan nyaris adu jotos. Tapi situasi panas itu sempat diredam.

Hanya saja, umpatan serupa kembali dilontarkan Ganesh saat mereka berada di kapal L205 yang sedang dalam tahap pengerjaan. Dia memaki pekerja WNI dengan mengatakan ”99 persen Indonesian stupid”.

”Iya. Dia supervisor electrical,” ujar Ari, salah seorang pekerja subkon di Drydock, kemarin.

Makian itu spontan menyulut emosi pekerja WNI lainnya. Adu jotos pun tak terhindarkan antara pekerja asing berdarah India dengan karyawan WNI—yang menurut mereka sudah sering mendapat hinaan serupa. ”Kalau topi ini bisa ngomong, dia akan ngomong kalau tiap hari kita ini dimaki-maki bodoh dan sebutan lainnya,” ujar Ari, dari Departemen Quality Control.

Hinaan itupun dengan cepat menyebar ke sekitar 10.000 pekerja (termasuk karyawan subkon) Drydock yang masuk pagi itu. Total karyawan Drydock sendiri sekitar 15.000 orang. Mereka pun bergerak mencari rekan kerja mereka yang berdarah India. Mereka meminta agar pekerja asing berdarah India hengkang dari Batam.

Menggunakan cat semprot, beberapa karyawan menuliskan permintaan agar WNA berdarah India keluar dari Batam. ”We want India people move out”. Tulisan itu terpampang di dinding gedung owner di samping gedung manajemen.

Kemarahan pekerja yang merasa dilecehkan itu kian membuncah. Mobil sejumlah petinggi Drydock yang terparkir di depan gedung manajemen dan gedung owner, baik di belakang maupun di depan gedung, jadi sasaran. Selain memecahkan kaca dan merusak badan mobil, mereka juga membakar beberapa di antaranya.

Pantauan Batam Pos di lokasi rusuh, ada 38 mobil berbagai merek, termasuk mobil mewah rusak berat. 5 dari 38 mobil itu habis terbakar. Hanya beberapa mobil yang bertuliskan ”Indonesia Punya” yang selamat dari aksi pembakaran.

Selain mobil, pekerja yang marah membara itu juga merusak kursi, meja dan komputer yang ada di gedung manajemen. Mereka bahkan menyulut api ke ruangan HRD setelah memecahkan kaca di lantai dasar. Api dengan cepat menyambar dokumen-dokumen yang menumpuk di meja kerja ruangan tersebut. Satpam perusahaan itu tak kuasa menahan emosi pekerja.

Beberapa pekerja di bagian manajemen, berhamburan keluar setelah melihat asap tebal dari lantai dasar. Sementara, pekerja asing, khususnya India yang takut dihakimi, memilih sembunyi di gedung manajemen dan gedung owner, serta beberapa ruangan lainnya di lantai dua dan tiga yang dinilai aman.

Beberapa di antara mereka panik dan nekat loncat dari lantai dua dan tiga. Bahkan seorang pekerja asing berdarah India ada yang patah kaki setelah terpeleset saat mencoba kabur dari lantai tiga.

Belum puas membakar gedung manajemen, pekerja yang masih mengamuk membakar gudang logistik berisi material dan tabung gas. Kepulan asap mengepung Drydock. Sesekali terdengar suara ledakan dari gudang tersebut.

Sekitar 30 menit bara di perusahaan milik pemodal asal Uni Emirate Arab itu meletus, satu kompi Brimob Polda Kepri tiba di lokasi bersama satu pleton anggota Samapta Poltabes Barelang dan Polda Kepri. Kemudian disusul dua pleton TNI AD dari Yonif 134 Tuah Sakti dan tiga unit mobil pemadam kebakaran.

Brimob yang datang langsung menghalau karyawan keluar kawasan Drydock dan mengamankan karyawan asing, khususnya yang berdarah India. Sementara petugas pemadaman internal (bagian safety) Drydock berusaha memadamkan api di lantai dasar gedung manajemen.

Sekitar satu jam kemudian, karyawan bersedia mundur dan keluar dari area Drydock. Namun, mereka masih terus meneriakkan agar orang-orang India keluar dari persembunyian mereka. ”Keluar kau India,” teriak ribuan pekerja.

Sementara itu, Brimob terus menyisir gedung manajemen dan gedung owner serta gedung lainnya tempat pekerja asing sembunyi. Satu per satu pekerja asing itu dievakuasi ke mobil polisi dengan kawalan ketat Brimob. Termasuk pekerja asing berdarah Bangladesh, Vietnam, dan pekerja asing lainnya, sebelum dievakuasi lewat jalur laut.

Dievakuasi Lewat Laut

Pekerja asing Drydock yang bersembunyi di gedung manajemen perusahaan itu, satu per satu dievakuasi oleh Brimob Polda Kepri. Mereka disembunyikan di mobil Brimob yang telah siaga.

”Tak mungkin kita lewat depan. Evakuasi lewat laut saja,” teriak salah seorang anggota Brimob kepada rekannya.

Mobil Brimob kemudian bergerak ke dermaga Drydock. Sekitar seratus meter dari dermaga, 200-an pekerja asing ini dievakuasi menggunakan kapal patroli, speedboat, dan pancung milik Ditpolair Polda Kepri. Termasuk yang luka-luka akibat bentrok dengan karyawan.

WN India Jadi Tersangka

Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas Braksan berjanji akan mengusut tuntas masalah kericuhan yang bermuara pada terbakarnya sebagian kantor Drydocks, kemarin. Satu warga negara India bernama Ganesh ditetapkan sebagai tersangka.

”Kami telah menetapkan WN India sebagai tersangka. Inisialnya ”G”. Dia diduga menghina sesama pekerja yang memicu terjadinya kericuhan itu,” ungkap Leonidas kepada Batam Pos tadi malam.

Dia mengatakan, G itu bakal dikenakan pasal penghinaan karena akibat ucapannya itu menimbulkan kemarahan pada sesama pekerja. Leonidas juga meminta rekan kerja G yang mendengar langsung kata-kata hinaan yang disampaikan untuk memberikan kesaksian di Mapoltabes Barelang.

Leonidas mengatakan, situasi keamanan di kawasan Drydocks telah aman terkendali. Namun aparat keamanan masih mengamankan kawasan shipyard tersebut hingga batas waktu yang belum ditetapkan.

”Situasinya telah kondusif. Batam kini terkendali pasca peristiwa itu,” tuturnya.

Leonidas menegaskan, tidak ada korban tewas dalam kericuhan yang melibatkan sekitar 10.000 pekerja itu. Tapi ada 9 orang yang terluka. Tiga di antaranya telah diizinkan pulang ke rumah dan lainnya masih dirawat intensif di rumah sakit.

”Saya pastikan tak ada korban yang meninggal hingga saat ini,” ungkap perwira dengan tiga melati di pundaknya itu.

Sementara itu, sumber resmi di kepolisian menuturkan, untuk mengamankan Batam pascakericuhan Drydocks, Polda Pekanbaru mengirimkan 100 personel Brimob untuk membantu personel kepolisian di Batam.

Enam Orang Kritis di RSAB

Hingga sore kemarin, pihak Rumah Sakit Awal Bros (RSAB) telah menerima dan merawat enam pekerja PT Drydocks yang luka parah. Sementara, tiga lainnya dirawat di beberapa rumah sakit terdekat.

Dua dari enam yang kritis itu warga negara Indonesia, yakni Lodewik Kalalo dan Patrik Susanto. Namun keduanya bukan korban anarkisme sesama pekerja Drydock, tapi mereka mengalami patah kaki akibat berusaha melompat dari lantai tiga gedung manajemen, setelah api mengepung gedung milik PT Drydocks tersebut, kemarin pagi.

Hal ini dibenarkan oleh teman keduanya, Stevanus Manampiring. Ia mengatakan, karena panik dengan munculnya kepulan asap tebal dari lantai dasar gedung tersebut, Lodewik dan Patrik memilih melompat dari lantai tiga untuk menyelamatkan diri.

Keduanya menurut dia bukan karyawan Drydocks tapi karyawan PT Master Marine, owner kapal L205 yang sedang diperbaiki di perusahaan tersebut. Kehadiran kedua korban di lantai tiga itu untuk menghadiri rapat antara pemilik kapal dengan Drydocks.

Selain keduanya, ada empat karyawan Drydocks berkewarga negaraan India yang masih kritis dan dirawat intensif di rumah sakit. Mereka rata-rata mengalami luka pada kepala, tangan dan kaki akibat dihantam benda tumpul saat adu jotos dengan pekerja yang mereka maki ”stupid”.

Para korban itu antara lain Prabaharan, Vee Rendra Kumar, E.N. Biju, dan Arumugan. ”Mereka masih dalam penanganan,” ujar dr Ingrid Sitawidjaja, dokter RSAB yang menangani korban.

Namun Ingrid enggan membeberkan kondisi luka yang didera enam korban tersebut dengan alasan masih dalam perawatan dokter rumah sakit.

Isu Sweeping

Amukan ribuan pekerja sempat reda setelah Kapoltabes Barelang Kombes Leonidas mengajak mereka berdialog. Kapoltabes bahkan berjanji menindak tegas pekerja asing yang menghina pekerja lokal. ”Saya akan minta supaya manajemennya memecat pekerja asing yang menyebut semua orang Indonesia bodoh,” katanya dengan pengeras suara.

Janji itu disambut tepuk tangan oleh pekerja. Sementara dialog berlangsung, sejumlah pekerja meneriakkan kata-kata propokatif. Mereka mengajak pekerja melakukan sweeping terhadap warga India. Meski tak ditanggapi, namun isu tersebut merebak sangat cepat di Tanjunguncang, kawasan industri yang banyak mempekerjakan tenaga asing berdarah India.

Sedikitnya 170 pekerja keturunan India di kawasan tersebut meninggalkan pekerjaannya pagi itu. Secara bergerombol mereka diangkut ke Mapolda Kepri di Nongsa. Selain 170 yang diungsikan di Mapolda, 44 lainnya ke Poltabes Barelang, juga untuk minta perlindungan.

”Tolong Pak. Istri saya ada di rumah di Batujaji. Dia ketakutan. Tolong bantu bawa dia ke sini,” kata Iqbal Ibrahim, 32, pekerja berkewarganegaraan Bangladesh kepada polisi di Mapolda Kepri dengan bahasa Inggris seadanya.

Menurut Iqbal, selain istri ada juga saudaranya yang terkurung dalam rumah kontrakan mereka di Batuaji. ”Mereka tak berani ke luar rumah karena takut kena sweeping,” ujarnya dengan ekspresi wajah cemas.

Iqbal bekerja di PT Naninda Drydock, perusahaan shipyard yang berlokasi tak jauh dari meletusnya kericuhan. Dia mengatakan, situasi Naninda Drydock pagi itu baik-baik saja. ”Keributan tak sampai merambat ke Naninda. Tapi saya dengar mereka mau sweeping, jadi saya bersama teman lainnya meninggalkan pekerjaan dan mencari perlindungan polisi,” ujar lelaki yang terus memainkan ponsel ini.

Iqbal belum tahu bagaimana nasibnya ke depan. ”Mudah-mudahan cepat selesai dan saya bisa bekerja lagi. Saya benar-benar tak punya masalah,” tukasnya.

Sementara itu, hingga sore kemarin ratusan warga India di Batam eksodus ke Singapura lewat Pelabuhan Nongsa Point Marina, Batam Centre, dan Sekupang. (nur/ros/spt)

Drydock Rugi Puluhan Miliar




E-mail
Ditulis oleh Redaksi ,
Jumat, 23 April 2010 07:53 (sumber Batam Pos,versi asli)

Selain kehilangan aset berupa kendaraan, komputer, meja, kursi, gudang logistik dan gedung terbakar bernilai miliaran rupiah, PT Drydock World Graha juga harus menanggung kerugian akibat penundaan pengerjaan sejumlah proyek dalam jangka waktu yang belum bisa ditetapkan.

Kericuhan tersebut diperkirakan membuat Drydock yang bermitra dengan banyak perusahaan subkon ini rugi lebih Rp50 miliar.

Chief Executive Officier (CEO) PT Drydock World Graha, Denis Welch di depan pejabat Polda Kepri, meminta maaf atas peristiwa berdarah dan berbau SARA di perusahaanya itu. Ia berjanji akan memperbaiki kondisi kerja di perusahaan galangan kapal itu.

”Kami minta maaf dan turut menyesal dengan kejadian ini. Mudah-mudahan dengan pertemuan ini apa saja permasalahan-permasalahan yang dihadapi bisa diketahui dan di masa depan bisa diantisipasi,” ujar Denis.

Hadir dalam pertemuan usai kerusuhan redah, Wakapolda Kepri Kombes Pol Bambang BS, Kabiro Binamitra Kombes Pol Ricky F Wakanno, Kabag Humas Polda Kepri AKBP Anggaria Lopis, Senior Manager Personalia PT Drydock World Graha Baharum, Manager Operasional Vijay, beserta Ketua SPSI Kota Batam Syaful Badri dan anggotanya.

Denis juga menjanjikan, akan melakukan perbaikan kondisi dan kesejahteraan pekerja. Selain itu, perusahaan juga akan melakukan pelatihan-pelatihan agar keterampilan karyawan meningkat sesuai dengan keinginan.

”Secara perlahan, kami juga akan melakukan pengurangan pengunaan tenaga kerja yang berasal dari sub kontraktor,” sebutnya.

Senior Manager Personalia PT Drydock World Graha Baharum menambahkan, untuk sementara aktivitas pekerjaan di perusahaan tersebut dihentikan. Sampai kapan? ”Kita tidak tahu sampai kapan. Tapi yang jelas aktivitas di perusahaan tersebut dihentikan untuk sementara,” ucapnya.

Berapa besar kerugian yang dialami perusahaan akibat kerusuhan itu? Baharum belum bisa menyebutkan. ”Kita inventarisir dulu kerusakan yang terjadi,” katanya.

”Yang terpenting, pekerja bisa menenangkan diri dulu dan yang luka-luka bisa diobati,” ujar Baharum lagi.

Ia menambahkan, pekerja asing yang rata-rata digaji 1.600 dolar Singapura per bulan itu berasal dari India, Bangladesh, Myanmar, dan Malaysia. Jumlahnya 212 orang pekerja. ”Secepatnya mereka akan kita pulangkan ke negara masing-masing,” ucapnya.

Kabiro Binamitra Polda Kepri Kombes Pol Ricky F Wakanno mengatakan, mereka yang terlibat pelanggaran hukum dalam kerusuhan akan tetap diproses. ”Seperti, pemicu kasus tersebut (Ganesh) jelas akan diproses,” ujar Ricky.

Warga India Diminta Tenang

Sementara itu, Ketua Persatuan Warga India Batam, Mr Prakash meminta warga India yang ada di Batam untuk tenang dan tetap menjalankan aktivitasnya sehari-hari.

”Yang di perusahaan lain tidak ada masalah. Kami berharap semua bisa kembali kondusif,” ujar Prakash, tadi malam.

Ia juga berterimakasih atas bantuan semua pihak yang dengan cepat bertindak memberikan perlindungan pada tenaga kerja asing, khususnya warga India yang bekerja di PT Drydock World Graha. (nur/ros/cr2)

Penertiban Ruli Eden Park Ditunda





Ditulis oleh Redaksi ,
Jumat, 23 April 2010 06:28 (sumber Batam Pos,versi asli)

BATAM CENTRE (BP) – Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Batam menunda menertibkan rumah liar (ruli) di kawasan Eden Park, Simpang Kara. Pasalnya, pemilik dari puluhan ruli tersebut tidak mau rumahnya digusur dan berencana melaporkannya ke DPRD Kota Batam.

Rencananya, di wilayah yang akan ditertibkan tersebut, akan dibuat jalan sepanjang 900 meter yang merupakan proyek Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Batam. Jalan ini merupakan jalan tembus dari Simpang Kara menuju Orchid Park, Batam Centre.

Kepala Satpol PP Kota Batam Zulhelmi mengatakan, penggusuran tersebut menunggu hasil hearing antara DPRD Kota Batam dengan Dinas PU Kota Batam dan Satpol PP Kota Batam. ”Pembangunan tersebut sebetulnya juga untuk masyarakat, tapi pemerintah tidak bisa bertindak anarkis dan harus bersikap persuasif,” katanya saat ditemui di Kantor Wali Kota Batam, kemarin.

Sementara itu, penertiban ratusan bangunan liar di tujuh titik lainnya tidak ada masalah. Pihaknya sudah melayangkan surat pembongkaran pada wilayah di lima titik yaitu Bengkong Seken yang akan dibangun jalan dua arah, jalan menuju Kelurahan Kibing, Perumahan Masyeba Batuaji, Mangsang yang akan dibangun drainase dan sekitar SDN 006 yang akan dibangun ruang kelas baru.

”Dua titik lainnya yaitu di Seilangkai yang akan dibangun lapangan sepakbola serta di sekitar wilayah SMPN 12 Batam Centre yang akan dibangun drainase tidak ada masalah karena tidak ada bangunan liar,” katanya.

Zulhelmi meminta masyarakat proaktif untuk membongkar bangunan tersebut karena surat perintah pembongkaran sudah dilayangkan. ”Bagi masyarakat yang masih tinggal di wilayah tersebut harap segera pindah,” imbaunya.

Anggota Komis IV DPRD Kota Batam, Windarti Wahyuningsih mengaku pihaknya belum menerima surat permintaan hearing dari warga yang menolak digusur. ”Sebagai wakil rakyat pihaknya hanya bertindak sebagai penengah antara pemerintah dan warga,” katanya.

Namun Windarti meminta masyarakat mengerti bahwa di tempat bangunan berdiri tersebut akan dibangun infrastruktur untuk pembangunan di Batam. ”Hasilnya juga kan untuk masyarakat,” terangnya.
Menurut Windarti, masyarakat yang tidak proaktif membuat pemerintah sulit untuk menata kota. Menurutnya, pertambahan penduduk yang tinggi di Kota Batam memacu pemerintah untuk terus meningkatkan infrastuktur. (evi)